KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Kelurahan Bello Kecamatan Maulafa Kota Kupang NTT secara geografis memiliki luas wilayah 754 Ha terdiri dari 28 RT dan 11 RW dengan jumlah penduduk sekitar 18 ribu jiwa Januari tahun 2024.
Sebagian besar Kelurahan Bello merupakan daerah pertanian lahan kering dan sebagian kecil persawahan.
Goris Takene, salah satu tokoh masyarakat Kelurahan Bello kepada media ini di Sumber mata air Oel Neineno mengatakan, Kelurahan Bello atau dulunya dikenal dengan sebutan Desa Bello sampai sekarang memiliki dua sumber mata air besar diantaranya, sumber mata air Oel Neipaut dan Oel Neineno.
Pada masa lalu menurut Goris, mata air Oel Neneno dan Oel Neipaut menjadi sumber pengairan di Bello dan sekitarnya. Areal persawahan dan jalur irigasi di wilayah itu sudah ada sejak era 1960-an.
Hal ini menjadikan Bello sebagai sentra pertanian di Kota Kupang. Musim tanam di wilayah itu dulu bisa sampai dua kali bahkan tiga kali dalam setahun. Namun, debit mata air Oel Naineno maupun Oel Neipaut kini telah berkurang drastis.
“Di era tahun 60 an Bello dikenal sebagai pusat pertanian yang juga turut menghidupkan roda ekonomi sejumlah pasar-pasar tradisional di Kota Kupang, sebab musim tanam bisa dua sampai tiga kali dalam setahun waktu itu, namun sekarang kalau mau tanam, petani menunggu musim hujan. Itu pun sering gagal karena musim hujan yang tidak menentu. Kejayaan pertanian Bello di masa lalu hanya kenangan saja,” tutur Ketua RW 003 itu Sabtu (15/3/25).
Kejayaan itu tinggal kenangan
Mengapa tinggal kenangan, menurut Takene, karena selain kondisi iklim dengan curah hujan yang tidak menentu, juga usia para petani yang sudah tua, tidak ada lagi generasi sekarang yang bersedia turun ke kebun maupun ke sawah.
“Dan salah satu soalnya karena pertumbuhan penduduk yang pesat tanpa penyeimbangan lahan produksi pertanian, bahkan ada pusat-pusat pertanian yang sudah berubah fungsi menjadi pusat hunian penduduk atau perumahan”, ujar dia.

Kembalikan kejayaan Bello.
Untuk mengatasi isu iklim ekstrim tersebut, sejak Januari – Desember 2025 nanti Lembaga Centrum Inisiatif Rakyat Mandiri bekerjasama dengan Badan Neterologi dan Geofisika kelas II NTT menggelar pendampingan terhadap 6.000 (enam ribu) petani kecil di Timor Barat yang tersebar di 30 desa dan 3 kelurahan yang ada di Kabupaten Malaka, TTU, TTS, Kabupaten Kupang dan Kota Kupang.
Kegiatan pendampingan itu diawali dengan penanaman 200 (dua ratus) anakan, beringin, mahoni di sumber mata air Oel Neipaut dan Oel Neineno Kelurahan Bello Kota Kupang yang dilanjutkan dengan penandatangan MOU di bukit Oel Neineno Bello Kamis, (13/3/2025) antara BMKG dan Lembaga Cirma NTT untuk kegiatan Sekolah Lapang Iklim (SLI). (Goe).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




