KUPANG, FLOBAMORA-SPOT – Namanya George Melkianus Hadjoh. Siapa tak kenal sosok ini. Di dunia olahraga Kempo dia, shinsei Dan 6. Di bidang Pemerintahan (Pemprov NTT) George Hadjoh menduduki beberapa jabatan penting. Pernah jadi Penjabat Wali Kota Kupang 1 tahun sebelum Fahrenzy P. Foenay.
Namun jabatan yang ia sandang tak membuat perasaannya mati. Hatinya tetap sebagai seorang George Hadjoh yang rendah hati.
Melihat suatu kondisi yang mengundang iba, calon Wàli Kota dari Paket Gacor itu langsung terenyuh.
“Saya pernah di posisi ini. Tinggal di rumah dinding, dengan kondisi miring seperti ini bersama orangtua saya dulu”, ungkap George Hadjoh ketika tiba di gubuk tua milik Angela Opat di Kelurahan Belo, kecamatan Maulafa Kota Kupang Rabu (23/10).
Ketika itu George baru saja selesai melakukan kampanye terbatas dengan Masrakat. Seharusnya Angela Opat ikut dalam pertemuan itu, namun ia ada urusan lain menyangkut hidupnya hari itu, bersama 2 orang anaknya.
Tak puas berdiri di depan rumah dinding reot itu ia masuk ke dalam. Di dalam rumah ia langsung duduk di kursi tua yang ada.
“Kita harus lakukan sesuatu. Tapi apa daya kita. Kalo Tuhan berkenan kita akan bangun rumah susun untuk menampung mereka yang kurang beruntung seperti ini”, ucapnya lirih.
Sekitar 20 menit George Hadjoh duduk di dalam rumah yang saat itu dijaga Mario, anak bungsu dari wanita yang ditinggal suami itu.
Dari raut wajahnya muncul perasaan empaty yang mendalam.

“Kasihan sekali. Ternyata di kota ini masih ada keluarga seperti ini”, ucap dia.
Tokoh masyarakat setempat Daniel Koli mengatakan beginilah keadaan Mama Nela (Angela Opat).
“Selama bulan Rosari ini kami selalu mendoakan mereka. Kami datang ke rumah ini untuk berdoa bersama. Sayang dia tidak ada di rumah, ketika bapa datang”, ujar dia.
Mama Angela Opat pertelepon menyatakan menyesal karena saat Calon Wali Kota datang dia sedang keluar.
“Minta maaf sekali saya tidak ada di rumah tadi bapa datang. Tadi habis pertemuan di titik pertama di Oepura, saya ada urusan sedikit jadi tidak pulang rumah lagi”, ucap dia.
Menurut Mama Nela, lahan tempat ia tinggal merupakan milik Boy Nenotek, warga Oepura.
“Om Boy, suruh kita tinggal saat kami diusir dari RT 10 Oepura”, ucap mama Nela.
Boy memang telah mengiklaskan sepenggal tanah untuk Mama Nela dan keluarga tinggal sampai maut menjemput, tapi tentu saja tidak bisa dimiliki. (Sintus).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




