OELAMASI, FLOBAMORA-SPOT.COM – Virus African Swine Fever (ASF) ternyata bukan penyebab utama kematian ternak di kabupaten Kupang. Ada Hoc Colera dan Mencret yang menimbulkan kematian babi, meski tidak ada laporan resmi dari dinas Peternakan Kabupaten Kupang.
Kabid Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Kabupaten Kupang drh. Yos Paulus pertelpon menjelaskan, pihaknya tidak bisa memastikan apakah kematian tertinggi disebabkan oleh Hoc Colera atau Mencret.
“Data terakhir 4 hari lalu 88 ekor babi yang mati. Yang terdampak ASF hanya 2 ekor. Sisanya terkena Hoc colera dan mencret. Hasil laboratorium memang hanya 2 yang positif ASF. Sedangkan ada yang hasil tesnya negatif ASF. Sedangkan babi yang lain (kita) hanya dapat laporan dari masyarakat tentang kematian ternak tersebut. Sehingga kita tidak bisa memastikan penyebab kematiannya apa ASF/ hog cholera/ mencret pada anak babi. Karena kita datang ke masyarakat katanya babinya sudah mati dan sudah dikubur.”, kata drh. Yos Paulus kepada Media ini Kamis (9/2/23).
Ia menjelaskan, Dua ekor babi yang mati akibat ASF terdapat di dua Desa Kelurahan.
“1 di Oebelo Kupang Tengah milik pak JK. Lopes dan 1 lagi di Kelurahan Naibonat Kupang Timur milik ibu Deasy Ballo. Itu berdasarkan hasil laboratorium”, jelas dia.
Ketika ditelisik lebih jauh mengapa penyebab kematian babi oleh Hoc colera dan mencret lebih tinggi dia menjelaskan, cuaca seperti saat sangat rawan terhadap penyakit tersebut.
“Cuaca begini kalo anak babi dia mencret. Mencret juga mematikan. Ada juga Hoc colera. Itu gejalanya hampir sama dengan ASF. Hanya bisa dipastikan dengan pemeriksaan laboratorium. Ciri-cirinya sama tapi diperiksa hasilnya, negatif”, ujarnya.
Tentang cairan disinfektan yang dikirim disnak Provinsi ke kabupaten Kupang ia mengatakan, pihaknya sudah menerima
1.980 liter cairan disinfectan dan 20 box obat.
“Ada juga bantuan 20 vial(@ 16 ml) serum konvalesen ASF. 1. 365 liter dan 4 box(@ 100 tablet), sudah didistribusikan kepada masyarakat Peternak. Kita sudah sebar semua di kecamatan”, terangnya.
Keuntungannya untuk kabupaten apa ?
“Kita lebih gampang dari pada ke Bali. Di Kupang ASF sudah bisa diperiksa. Tapi untuk Hoc colera harus dikirim ke Bali. Karena di Kupang dia punya Stik habis. Alat deteksi virus itu PCR mungkin. Supaya memudahkan jangan sampai babi sudah mati baru hasil sampai to.
Juga banyak sampel dalam 1x pemeriksaan dan lebih cepat tau hasilnya”, tambahnya.
Mengenai informasi di Facebook (nama grup tertentu) ia mengatakan, masyarakat bisa melaporkan ternaknya yang sakit ke Puskeswan di masing-masing kecamatan.
“Ada permintaan di grup itu agar Petugas turun ke desa-desa. Petugas memang tidak bisa turun ke desa-desa, mengapa ? Karena penyebaran penyakit ini sangat kuat. Kalo Petugas dari satu kandang ke kandang lain, jangan sampai Petugas bawa virus ini dari rumah ke rumah. Makanya kepada semua masyarakat sudah dikasihtau dalam surat edaran dan radio gram kita itu, kalo ada hewan sakit di rumah langsung bisa hubungi Petugas Keswan”, jelasnya.
“Kalo tidak tau Puskeswan dia langsung lapor ke Lurah, Kepala desa untuk seterusnya disampaikan ke Camat. Camat langsung perintahkan Petugas untuk bertindak. Lalu kalo mati harus dikubur”, pungkasnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




