Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Pastor Paroki Kolhua Antar Calon Frater Menapaki Jalan Imamat

Calon Frater Reinal Takene (baju Kuning) di apit Romo Dus Bone dan Romo Toni Kobesi bersama frater TOP serta Oma dan adik bungsu.

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Langkah menuju imamat tidak pernah ditempuh seorang diri. Di balik setiap panggilan, Gereja hadir mendampingi, menguatkan, dan mengutus.
Semangat itu tampak ketika Pastor Paroki Santo Fransiskus dari Asisi Kolhua, Kota Kupang NTT, RD Longginus Bone, mengantar langsung seorang calon frater menuju Rumah Pembinaan Tahun Orientasi Rohani (TOR) Lo’o Damian Nenuk, Atambua.

Calon frater yang diantar adalah Reinal Takene, alumnus Seminari Menengah Santo Rafael Kupang yang telah menyelesaikan pendidikan selama empat tahun.

Sesuai ketentuan, seluruh calon frater angkatan baru diwajibkan tiba di Rumah Pembinaan TOR Lo’o Damian Nenuk paling lambat 1 Agustus 2026 pukul 17.00 Wita untuk memulai masa orientasi sebagai bagian dari proses pembinaan menuju imamat.

Bagi Paroki Kolhua, keberangkatan Reinal untuk melanjutkan studi bukan sekadar perjalanan menuju lembaga pendidikan calon imam.
Namun, Momen itu menjadi ungkapan syukur atas tumbuhnya panggilan hidup membiara di tengah umat. Ini juga menegaskan, Gereja tidak hanya mendoakan, tetapi juga mendampingi secara nyata setiap orang yang memilih mengabdikan hidupnya bagi pelayanan.

Pastor Paroki Santo Fransiskus dari Asisi Kolhua, RD Longginus Bone, Jumat (31/7/2026) mengatakan panggilan menjadi imam merupakan rahmat Allah yang harus dipelihara bersama oleh seluruh umat beriman. Karena itu, pendampingan terhadap calon imam tidak berhenti pada doa, tetapi juga diwujudkan melalui kehadiran dan perhatian Gereja sejak awal perjalanan panggilan.

“Panggilan menjadi imam adalah rahmat Allah yang perlu dipelihara bersama. Kehadiran pastor untuk mengantar calon frater bukan sekadar perjalanan menuju tempat pembinaan, tetapi juga tanda bahwa Gereja berjalan bersama mereka sejak awal proses panggilan. Kami berharap Reinal menjalani masa pembinaan dengan setia, rendah hati, dan penuh sukacita. Semoga langkah ini juga menginspirasi semakin banyak kaum muda di Paroki Kolhua untuk berani menjawab panggilan Tuhan,” ujar imam yang akrab disapa Romo Dus Bone.

Dukungan juga datang dari umat Stasi Santo Agustinus Bello.
Ketua stasi Bello, Donatus Manehat secara terpisah, mengatakan keberangkatan Reinal ke biara TOR Nenuk menjadi kebanggaan sekaligus sukacita bagi seluruh umat karena lahirnya panggilan imamat merupakan buah dari kehidupan iman yang terus dipupuk dalam keluarga dan komunitas.

“Kami atasnama seluruh umat Stasi Santo Agustinus Bello merasa bangga dan bersyukur karena Reinal Takene merupakan salah satu putra stasi kami yang terpanggil mengikuti pembinaan calon imam. Kami mendukung penuh perjalanan panggilannya dan terus mendoakan agar ia tetap setia hingga tahbisan nanti. Semoga kehadiran Reinal menjadi teladan yang membangkitkan lahirnya panggilan-panggilan baru dari lingkungan dan stasi kami,” katanya.

Sementara itu, Pastor Rekan Paroki Santo Fransiskus dari Asisi Kolhua, RD Toni Kobesi, menyampaikan rasa syukur atas bertumbuhnya panggilan imamat di tengah kaum muda paroki.

Menurut dia, keputusan sejumlah lulusan seminari, termasuk Reinal Takene, untuk tetap melanjutkan proses pembinaan menjadi calon imam merupakan pilihan yang patut dihargai, terlebih di tengah kehidupan modern yang menawarkan begitu banyak pilihan dan tantangan.

“Keberanian menjawab panggilan Tuhan pada zaman yang serba cepat dan penuh godaan merupakan anugerah yang patut disyukuri. Panggilan seperti ini perlu terus didampingi agar bertumbuh menjadi kesetiaan dalam pelayanan. Sebagai imam dan bagian dari komunitas Paroki Kolhua, kami berkomitmen mendukung serta mendoakan setiap anak yang terpanggil untuk hidup membiara. Secara khusus mereka yang berasal dari Kapela Santo Agustinus Bello. Semoga semakin banyak kaum muda berani membuka hati dan menanggapi panggilan Tuhan dengan sukacita,” ujar Romo Toni

Proses pendidikan calon imam yang ditapaki calon frater Reinal Takene menggambarkan bahwa, panggilan imamat tidak saja lahir dalam ruang yang hampa.

Namun di baliknya ada keluarga yang mendidik dalam iman, umat yang terus mendoakan, dan Gereja yang setia mendampingi.

Kehadiran pastor paroki Romo Dus Bone mengantar langsung calon frater menjadi simbol bahwa perjalanan menuju altar dimulai dengan langkah kecil yang dijalani bersama, dalam semangat persaudaraan, doa, dan harapan akan lahirnya semakin banyak pelayan Gereja di masa depan. (goe).

  • Bagikan