KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Waktu telah membawa mereka menempuh jalan hidup dan profesi yang berbeda. Namun, ikatan persahabatan yang terjalin sejak sama-sama menggeluti dunia jurnalistik tetap terpelihara hingga kini.
Empat wartawan senior yang pernah aktif meliput berbagai peristiwa di Kota Kupang pada era 1990-an hingga awal 2000-an kembali dipertemukan dalam suasana penuh kehangatan.
Mereka adalah Linda Makandolu dan Imran Larian dari Harian Timex, Maksi Marho yang pada masa itu merupakan wartawan Harian Umum Pos Kupang dan kini berkarya di Teropong NTT, serta Goris Takene yang kini mengabdi sebagai aparatur sipil negara di Pemerintah Kota Kupang.
Pertemuan yang berlangsung santai pada Senin (29/6-2026) siang itu menjadi ajang melepas rindu sekaligus mengenang masa-masa ketika mereka berjuang di lapangan sebagai wartawan.
Berbagai kisah lama kembali mengemuka, mulai dari pengalaman berburu berita, mengejar narasumber, hingga berpacu dengan tenggat waktu demi menyajikan informasi yang akurat kepada masyarakat.
Maksi Marcho mengatakan, pertemuan tersebut mengingatkannya pada masa ketika para wartawan harus bekerja keras di lapangan dengan mengandalkan kecepatan, ketelitian, dan solidaritas antar sesama jurnalis.
“Dulu kami berbeda media, tetapi di lapangan kami saling menghargai dan membangun persaudaraan. Banyak kenangan yang tidak akan pernah terlupakan. Pertemuan ini menjadi obat rindu sekaligus mengingatkan kami pada masa-masa indah sebagai wartawan Pos Kupang,” ujarnya.
Sementara itu, Linda Makandolu yang hingga kini masih aktif sebagai wartawan Harian Timex menuturkan, profesi wartawan telah memberinya banyak pengalaman berharga sekaligus memperluas jejaring persahabatan.
“Dunia jurnalistik telah mempertemukan kami dengan banyak orang dan berbagai pengalaman. Meski kini sebagian sudah menempuh profesi berbeda, persahabatan yang dibangun sejak dahulu tetap terjaga hingga kini. Semoga silaturahmi seperti ini terus berlanjut,” kata Linda.
Goris Takene mengatakan, pertemuan tersebut menjadi bukti bahwa ikatan persaudaraan di kalangan wartawan tidak pernah lekang oleh waktu, meski perjalanan hidup membawa setiap orang ke profesi yang berbeda.
“Banyak rekan seangkatan yang kini telah pensiun dari dunia jurnalistik. Ada yang memilih berkiprah sebagai advokat, ada pula yang mengabdi sebagai aparatur sipil negara, termasuk saya. Namun, kenangan saat bersama-sama menjalankan tugas jurnalistik tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup kami. Profesi wartawan telah mengajarkan integritas, kepekaan terhadap persoalan masyarakat, serta membangun persahabatan yang terus terjalin hingga sekarang,” ujar Goris.
Gelak tawa dan canda mengiringi setiap cerita yang terlontar. Bagi mereka, dunia jurnalistik bukan sekadar profesi yang pernah dijalani, melainkan sekolah kehidupan yang membentuk karakter, menumbuhkan idealisme, sekaligus melahirkan persahabatan yang tetap bertahan melintasi waktu.
Pertemuan itu menjadi pengingat bahwa nilai-nilai kebersamaan yang dibangun melalui perjuangan di ruang redaksi maupun di lapangan tidak mudah luntur. Di tengah perubahan zaman, silaturahmi yang terjalin sejak masa menjadi “kuli tinta” tetap hidup, membuktikan bahwa persahabatan sejati selalu menemukan jalannya untuk kembali dipertemukan. (goe).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




