Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Telepon Pagi yang Menghangatkan Hati

Suasana Kerja WFH di lingkungan Dinas P dan K Kota Kupang (Jumat 12/6-2026) nampak operator tetap kendalikan pekerjaan dari kantor bagi ASN yang WFH.

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Pagi itu, Jumat, 12 Juni 2026. Jarum jam baru menunjuk pukul 08.16 WITA. Di sebuah kamar sederhana, saya masih terbaring lemas di atas tempat tidur. Dua hari terakhir, pilek berat yang menyerang membuat tubuh terasa kehilangan tenaga.

Setelah sarapan pagi saya sudah mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter, berharap kondisi segera membaik.

Di samping tempat tidur terdapat sebuah meja kecil. Di atasnya tersusun beberapa jenis obat, segelas air putih, dan telepon genggam yang sejak tadi menemani waktu istirahat. Suasana pagi berjalan tenang. Hanya terdengar suara kendaraan sesekali melintas di luar rumah.

Namun ketenangan itu mendadak pecah oleh dering telepon yang berbunyi cukup keras.
Saya meraih telepon genggam yang berada tidak jauh dari tempat tidur. Nama penelepon yang muncul membuat saya segera menjawab.

“Selamat pagi bapa,” sapa saya pelan.
Dari seberang sana terdengar suara yang sangat saya kenal.
“Shalom, selamat pagi, bapa Goris. Ada sibuk kah?” ujar suara tersebut.

Ternyata yang menelepon adalah Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Ernest Ludji, pimpinan saya di kantor saat itu.
“Saya sakit, bapa,” jawab saya singkat.

Mendengar jawaban itu, beliau langsung menyampaikan permohonan maaf.

“Wah, maaf, Om Goris. Baik, lanjut istirahat saja. Saya pikir sehat, mau ajak kita sama-sama ke SD Harmoni di Fatukoa. Tetapi tidak apa-apa. Lanjut istirahat, lekas sembuh e… Selamat pagi om Goris, shalom.”

“Terima kasih, bapa. Shalom. Selamat pagi,” balas saya dari balik telpon.

Percakapan singkat itu pun berakhir. Saya menutup telepon lalu kembali merebahkan badan.
Ucapan itu terdengar sederhana. Tidak panjang, tidak pula berisi hal-hal besar. Namun di tengah kondisi tubuh yang sedang lemah, perhatian kecil tersebut terasa begitu berarti.

Di tengah kesibukan seorang pimpinan yang sedang berada di luar kantor, masih ada ruang untuk menanyakan kabar seorang bawahan. Barangkali bagi sebagian orang itu hanyalah telepon biasa. Namun bagi yang sedang sakit, perhatian sekecil apa pun dapat menjadi obat yang tak kalah ampuh dari pil dan kapsul yang tersusun di atas meja saat itu.

Pagi itu saya kembali memejamkan mata. Tubuh memang masih lemah, tetapi hati terasa lebih hangat.

Saya kembali menyadari bahwa dalam dunia kerja, yang paling dikenang bukan hanya jabatan atau perintah, melainkan kepedulian dan sentuhan kemanusiaan yang tulus.

Sebab pada akhirnya, setiap orang membutuhkan perhatian. Dan sering kali, sebuah telepon singkat yang datang pada waktu yang tepat mampu menghadirkan semangat baru untuk bangkit dan melanjutkan perjuangan.

Semoga nilai-nilai kepedulian seperti ini terus tumbuh dalam kehidupan kita, baik di lingkungan kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari. Karena dunia akan menjadi tempat yang lebih baik ketika setiap orang mau meluangkan sedikit waktu untuk menanyakan kabar, memberi semangat, dan hadir bagi sesamanya.

Pagi itu, saya belajar satu hal sederhana: perhatian yang tulus mungkin tidak menyembuhkan penyakit secara langsung, tetapi mampu menguatkan hati untuk percaya bahwa esok akan lebih baik. (goe).

  • Bagikan