KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Umat Katolik di Paroki Santo Fransiskus dari Asisi Kolhua, Kota Kupang, diajak untuk menghidupi Bulan Maria tidak hanya melalui doa, tetapi juga lewat kesaksian hidup sehari-hari yang nyata.
Ajakan tersebut disampaikan Pastor rekan paroki, Romo Toni Kobesi, saat memimpin Perayaan Ekaristi pembukaan Bulan Maria tingkat paroki, Jumat petang.
Dalam pengantar misa, Romo Toni menegaskan bahwa bulan Mei merupakan waktu istimewa dalam tradisi Gereja Katolik yang didedikasikan secara khusus untuk menghormati Bunda Maria sebagai Bunda Gereja sekaligus teladan iman. Karena itu, umat didorong untuk menghidupkan kebiasaan doa bersama, termasuk melalui tradisi doa dari rumah ke rumah.
“Bersama Bunda Maria selama bulan Mei ini, umat Katolik diajak untuk berdoa bersama, dari rumah ke rumah, seraya membawa intensi bagi keadaan dunia,” ujarnya.
Menurut dia, doa bersama tersebut tidak hanya menjadi ungkapan devosi, tetapi juga wujud kepedulian iman terhadap berbagai persoalan yang dihadapi umat manusia dewasa ini.
Perayaan pembukaan Bulan Maria tahun ini bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Sedunia. Dalam konteks tersebut, Romo Toni mengajak umat untuk bersatu dalam doa bersama Gereja universal, memperjuangkan martabat dan kesejahteraan para pekerja.
“Hari ini, bersama Gereja di seluruh dunia, kita merayakan Hari Buruh. Kita bersatu dalam doa bersama Bunda Maria untuk memperjuangkan martabat para pekerja,” katanya.
Ia juga mengaitkan momentum ini dengan devosi kepada Hati Kudus Yesus pada Jumat pertama. Umat diajak memohon rahmat agar memiliki hati yang peka dan penuh kasih, sehingga doa yang dipanjatkan tidak berhenti pada kata-kata, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata.
Romo Toni mengingatkan pentingnya Perayaan Ekaristi sebagai pusat kehidupan iman, tempat umat mempersembahkan syukur dan permohonan kepada Tuhan.
“Marilah kita membawa seluruh pikiran, rasa syukur, dan permohonan kita, dan mempersatukannya dalam kurban keselamatan Kristus. Semoga kita diteguhkan dalam iman, harapan, dan kasih,” tuturnya.
Dalam homilinya, Romo Toni menyoroti realitas kehidupan beriman yang kerap diwarnai kerapuhan dan kegelisahan.
Ia menegaskan, di tengah “kegelapan” hidup, Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya, melainkan tetap hadir, melindungi, dan menuntun.
“Hidup kita sering kali berjalan dalam kegelapan. Namun Allah tidak pernah meninggalkan kita. Ia justru menjaga dan melindungi jiwa kita,” katanya.
Ia mengingatkan umat agar tidak terjebak pada ketakutan terhadap penilaian manusia yang dapat menjauhkan dari Tuhan.
Menurut dia, kecenderungan mencari penerimaan sosial sering kali membuat orang mengabaikan relasi dengan Allah.
“Kadang kita lebih takut pada penilaian manusia daripada kepada Tuhan. Padahal, Tuhan telah menyediakan segalanya bagi kita. Tinggal kita mau melangkah atau tidak,” ujarnya.
Lebih lanjut ia menekankan, iman kepada Kristus menjadi dasar harapan sejati. Mengutip sabda Yesus, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup,” Romo Toni mengajak umat untuk menempatkan pengharapan sepenuhnya kepada Allah, bukan pada hal-hal duniawi yang sementara.
Menurut dia, kesadaran bahwa hidup memiliki akhir seharusnya mendorong umat untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dan memberi ruang bagi karya-Nya dalam kehidupan sehari-hari.
Perayaan ini, lanjut Romo Toni, menjadi momentum awal bagi umat Paroki Kolhua untuk semakin memperdalam devosi kepada Bunda Maria sekaligus memperkuat kehidupan doa bersama, baik dalam keluarga maupun lingkungan.
Pembukaan Bulan Maria tersebut dihadiri selain umat di Pusat Paroki Kolhua, Bello dan Noelsinas juga dihadiri sejumlah komunitas hidup bakti.
Perayaan yang berlangsung khidmat itu, menandai dimulainya rangkaian kegiatan rohani sepanjang bulan Mei. (goe).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




