KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Di sebuah ruang rawat inap Rumah Sakit Borromeus Bello, Selasa sore (6/1/2026), keheningan rumah sakit mendadak terasa lebih hangat.
Bukan karena obat atau alat medis, melainkan karena kehadiran sekelompok Sahabat Monsinyur Gabriel Manek (SMGM). Mereka datang membawa kasih, doa, dan penguatan iman bagi seorang pasien lanjut usia, Opa Ambros Ngada.
Kunjungan tersebut dilakukan oleh pengurus SMGM Cabang Asisi Kolhua Kupang, dipimpin langsung oleh Ketua SMGM Cabang Asisi Kolhua, Yohanes Mau. Pengurus datang bersama Penasihat SMGM Pusat, Anton Bele dan Koordinator SMGM Keuskupan Agung Kupang Adrianus Ceme dan sejumlah anggota.
Mereka hadir untuk memberi kekuatan bagi Opa Ambros Ngada yang tengah menjalani perawatan intensif.
Di sisi ranjang pasien, para sahabat SMGM tidak sekadar hadir secara fisik. Dengan penuh empati, mereka menggenggam tangan Opa Ambros, menyapa dengan senyum, dan meluangkan waktu mendengarkan kisah serta keluhan yang disampaikan dengan suara lirih.
“Setiap sahabat Monsinyur Gabriel Manek dipanggil untuk hadir secara nyata bagi mereka yang sedang menderita. Kunjungan seperti ini adalah bentuk pelayanan prioritas kami,” ujar Yohanes Mau di sela-sela kunjungan.
Menurut Yohanes, kehadiran SMGM di rumah sakit merupakan wujud konkret spiritualitas pelayanan yang diwariskan oleh almarhum Uskup Mgr Gabriel Manek, SVD.
Ia seorang gembala yang sepanjang hidupnya dikenal dekat dengan orang kecil, miskin, tersingkir, dan sakit.
Ia menjelaskan, dalam setiap kunjungan, anggota SMGM menghidupi lima nilai dasar pelayanan yang dikenal sebagai prinsip 5M.
Pertama, Mengunjungi, yakni hadir secara nyata mendampingi keluarga atau pribadi yang membutuhkan.
Kedua, Mendengarkan, dengan membuka hati dan memberi ruang bagi suka-duka mereka yang dijumpai.
Ketiga, Menyentuh, menghadirkan pelayanan kasih melalui kehadiran yang hangat dan bersahabat.
Keempat, Menghibur, membawa pengharapan dan semangat baru bagi mereka yang sedang lemah dan terluka.
Dan kelima, Mendoakan, sebagai penutup setiap kunjungan, memohon kekuatan dan rahmat Tuhan bagi yang dilayani.
“Pelayanan ini bukan soal banyaknya kata, tetapi tentang kehadiran yang tulus. Ketika orang sakit merasa tidak sendiri, di situlah kasih Tuhan bekerja,” tambah Yohanes.
Sementara itu, Anton Bele, Penasihat SMGM Pusat, menegaskan, SMGM adalah gerakan kasih, bukan sekadar organisasi.
Menurutnya, pelayanan kepada orang sakit adalah panggilan iman yang harus diwujudkan secara konkret dalam kehidupan sehari-hari.
“SMGM hadir untuk menjadi wajah Gereja yang penuh belas kasih. Kami percaya bahwa melalui sentuhan, doa, dan kehadiran yang sederhana, harapan dapat kembali menyala di hati mereka yang sedang menderita,” ungkap Anton Bele.
Ia menambahkan, semangat pelayanan SMGM berakar kuat pada teladan hidup Mgr Gabriel Manek, SVD. Dia Uskup pertama asal Keuskupan Atambua, yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri bagi mereka yang kecil dan tak bersuara.
Kunjungan sore itu ditutup dengan doa bersama di sisi tempat tidur Opa Ambros Ngada. Dalam suasana hening dan khidmat, para sahabat memohon kekuatan, penghiburan, serta damai sejahtera bagi pasien dan keluarganya.
Di tengah keterbatasan ruang dan kondisi sakit, kehadiran Sahabat Mgr Gabriel Manek menjadi oase kecil, menghadirkan kasih, harapan, dan keyakinan bahwa tidak ada penderitaan yang dijalani sendirian. (goe).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




