Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Direktur Yang Memilih Hidup Apa Adanya, Sebuah Kisah Kehangatan di Meja Makan Sederhana

Direktur PDAM Kota Kupang Isidorus Lilijawa, S. Fil, M. M..

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Selasa siang, 25 November 2025, matahari Kota Kupang baru saja naik tinggi ketika telepon saya berdering.

Di seberang sana, suara hangat seorang sahabat sekaligus tokoh penting dalam pelayanan publik kota ini, Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Kupang Isidorus Lilijawa, S.Fil., M.M, mengundang saya untuk makan siang bersama.

Dalam benak saya, undangan itu menandakan perjalanan menuju sebuah restoran ternama, ruang makan luas berpendingin udara, meja berlapis taplak putih, pelayan berseragam rapi, dan suasana formal seperti biasanya para pejabat bertemu.

Saya membayangkan percakapan serius di ruangan yang tertata sempurna dan berwibawa.

Namun, dugaan itu seketika terbantahkan.

Sesampainya di kantornya, Iso sapaan kami para sahabatnya hanya tersenyum ramah dan berkata pelan, “Kita makan dekat sini saja, di tempat biasa saya.”

Tidak ada mobil dinas yang melaju, tidak ada ajudan yang mendampingi, dan tidak ada protokoler yang sibuk mengatur.

Kami berjalan kaki kurang dari lima menit. Perhentian kami adalah sebuah warung kaki lima sederhana di pinggir trotoar, atap seng yang telah buram ditelan waktu, beberapa kursi plastik berjejar rapi dibsetiap meja makan panjang yang sedikit goyah, meja plastik penuh bekas goresan, dan aroma masakan rumahan yang mengepul dari dapur mungil di belakang. Asap dari panci yang menggembung bercampur harum bumbu tumis dan sambal terasi menyelinap di antara kendaraan yang lalu lalang.
Tanpa ragu sedikit pun, Direktur Isidorus duduk di kursi kecil di sudut warung dan memesan menu favoritnya: nasi campur ikan cuir dengan sayur bunga pepaya dan daun singkong, makanan sederhana untuk ukuran seorang pemimpin perusahaan daerah. Sambil menunggu hidangan, ia berbicara dengan suara tenang dan penuh kebijaksanaan, seolah-olah sedang mengajar di kelas filsafat:

“Hidup itu jangan dibikin susah. Jabatan cuma titipan. Tapi hati yang sederhana itu bekal sampai mati.”

Kalimat itu menancap kuat dalam ingatan saya. Di tengah gemerlap fasilitas jabatan, mobil dinas, dan ruang kerja berkelas, ia memilih cara hidup yang seolah melangkah di jalur berbeda: bersahaja dan dekat dengan rakyat. Ia menyapa pemilik warung dengan akrab, seakan teman lama. Beberapa pegawai kantoran yang sedang makan memandang kagum , tak percaya bahwa seorang Direktur PDAM mau duduk sejajar, tanpa protokol, tanpa jarak.

Ketika makanan tersaji, ia menunduk sejenak, mengucap doa singkat, lalu makan dengan lahap dan penuh syukur. Tidak ada pembicaraan tentang anggaran, tender, atau rapat strategis. Yang terdengar adalah percakapan tentang nilai kehidupan, tentang bagaimana tetap berpijak di tanah walaupun sedang berdiri di tempat tinggi. Kami berbicara tentang rencana penyelenggaraan festival permainan rakyat dan olahraga tradisional bersama KPOTI Kota Kupang, dan tentang bagaimana kebudayaan tumbuh dari kesederhanaan.

Di tengah percakapan, ia menambahkan kalimat yang membuat suasana warung itu berubah menjadi ruang perenungan:
“Kalau saya makan di restoran mahal, hanya saya yang kenyang. Tapi kalau saya makan di sini, saya ikut menghidupkan usaha kecil. Orang kecil juga butuh kita.”

Usai makan, ia berdiri, merogoh dompetnya, dan membayar bukan hanya makanannya, tetapi juga satu porsi makanan seorang staf kantor yang kebetulan sedang makan di sana. Ia menyalami pemilik warung dan berkata dengan senyum tulus:

“Terima kasih, Bu. Masakan hari ini luar biasa.”

Tanpa sirene mobil dinas, tanpa ajudan, kami berjalan kembali ke kantor di bawah panas matahari Kota Kupang. Saya melangkah pelan, namun hati saya dipenuhi kekaguman yang sulit saya sembunyikan.

Banyak pemimpin menjadi besar karena jabatan yang mereka duduki.
Namun hanya segelintir yang menjadi agung karena kerendahan hati.

Dan hari itu, di sebuah bangku kayu sederhana di pinggir jalan Kota Kupang,
saya bertemu salah satunya, Isidorus Lilijawa, Direktur PDAM Kota Kupang
yang memilih hidup apa adanya, namun meninggalkan teladan luar biasa.
Sederhana bukan berarti kurang. Sederhana adalah kejernihan hati yang memuliakan manusia lain. (Goe).

  • Bagikan