Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Goris Takene Bawa Gasing NTT ke Munas II KPOTI

Ketua KPOTI Kota Kupang bersama peserta lain sedang bermain gasing.

JAKARTA, FLOBAMORA–SPOT — Irama putaran gasing dari tangan Goris Takene, tokoh masyarakat asal Kelurahan Bello, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi salah satu sorotan dalam Musyawarah Nasional (Munas) II Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) yang digelar di Oakwood Hotel & Apartments Taman Mini Jakarta, 14–16 November 2025.

Di tengah derasnya arus digitalisasi, penampilan sederhana itu menjadi pengingat dimana permainan tradisional bukan sekadar hiburan masa kecil, melainkan bagian dari identitas dan kebijaksanaan budaya bangsa.

Di arena “Teras Main Indonesia” kompleks Taman Mini Indonesia Jakarta selain Goris, juga sejumlah peserta Munas tampak memegang gasing kayu versi Timor yang dibawa dari Kupang. Gasing kayu Timor berputar di arena TMI membawa pesan yang kuat.

Bagi Goris Takene, staf Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang sekaligus penggerak budaya di lingkungannya, permainan rakyat seperti gasing adalah simbol perjalanan budaya yang tidak boleh hilang.

Ia hadir di Munas II KPOTI mewakili NTT, membawa gasing kayu hasil karya perajin lokal dari Kupang.

“Gasing telah dikenal luas di berbagai daerah, termasuk NTT. Setiap daerah punya bentuk dan cara bermain yang berbeda, tetapi nilai yang dikandung tetap sama, kreativitas, kebersamaan, dan kearifan lokal,” ujar Goris Takene di Jakarta, Sabtu (15/11/2025).

Sementara itu, peserta Munas lain Ahmad.S Kamis asal Maluku Utara mengatakan, permainan tradisional perlahan terpinggirkan oleh perkembangan teknologi dan perubahan pola bermain anak. Ruang interaksi sosial yang dahulu tumbuh melalui permainan rakyat kini tergantikan oleh layar gawai.

“Ketika permainan seperti gasing hilang, kita sebenarnya sedang kehilangan salah satu cara membangun karakter gotong-royong dan sportivitas,” Ujarnya.

Gasing yang dibawanya ke Munas II KPOTI dibuat dari kayu pilihan oleh perajin lokal NTT. Selain berfungsi sebagai permainan, gasing itu merepresentasikan hubungan erat antara keterampilan tangan, kreativitas, dan nilai kebersamaan.

“Gasing bukan hanya benda yang berputar. Ia menyimpan cerita. Ketika anak-anak memainkan gasing, mereka sedang menyambung benang ingatan antara masa lalu dan masa depan,” tutur Goris.

Abdul Malik peserta asal DKI mengharapkan, Munas II KPOTI di Jakarta hari ini dapat Meneguhkan Komitmen Pelestarian Permainan Rakyat.

Munas II KPOTI menjadi momentum penting bagi seluruh pengurus dan pegiat permainan rakyat dari berbagai provinsi untuk merumuskan arah kebijakan pelestarian budaya permainan dan olahraga tradisional lima tahun ke depan.

Ketua Pelaksana Munas, Khairul Umam, S.Pd., M.Pd., mengatakan forum ini bukan hanya agenda organisasi, tetapi juga ruang strategis untuk membangun kesadaran nasional tentang nilai-nilai yang terkandung dalam permainan rakyat.

“Permainan tradisional adalah cermin nilai kebersamaan, sportivitas, dan solidaritas. Kami ingin nilai-nilai itu kembali hidup di masyarakat dan dunia pendidikan,” kata Khairul.

Sementara itu, Ketua KPOTI NTT Sandro Wanga menegaskan, pelestarian permainan tradisional membutuhkan dukungan kebijakan nyata dari pemerintah daerah.

“Permainan rakyat harus mendapatkan tempat yang tetap di sekolah dan ruang publik. Jika ada dukungan kebijakan, permainan tradisional bisa hidup kembali sebagai bagian dari pendidikan karakter dan identitas lokal,” ujarnya.

Menghidupkan Kembali Ruang Bermain. 

Permainan gasing sendiri memiliki dua bentuk permainan yang populer di NTT:

Permainan Adu (Adu Gasing), di mana pemain melemparkan gasing untuk menjatuhkan gasing lawan yang sedang berputar di arena.

Permainan Wilayah (Ambilan), di mana pemenang ditentukan oleh kemampuan gasing bertahan di area permainan atau mengeluarkan gasing lawan dari lingkaran tertentu.

Di berbagai wilayah Timor, variasi permainan dan tekniknya diwariskan secara lisan antar generasi.

Inti dari permainan ini tetap sama: mengasah ketangkasan, melatih kesabaran, dan mempererat ikatan sosial di antara pemainnya.

Goris berharap pengalaman mengikuti Munas II KPOTI menjadi inspirasi bagi sekolah, pemerintah, dan komunitas di Kupang untuk kembali membuka ruang bermain bagi anak-anak.

“Sebelum kita bergerak mengejar dunia yang serba cepat, baik juga jika sesekali kita kembali ke tanah tempat kita bertumpu dulu,” katanya menutup perbincangan. (g).

  • Bagikan