Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Debit Air Menurun, Petani Bello Atasi Dengan Cara Atur Jadwal

Junus Takene, Ketua Kelompok Tani Mansuma di Bello.

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT – Krisis air yang semakin parah kini mengancam keberlangsungan tanaman pertanian di wilayah Bello.

Menurunnya debit air secara signifikan memaksa para petani setempat untuk mengatur ulang jadwal penyaluran air. Hal ini penting untuk menjaga produktivitas dan kelangsungan tanaman mereka.

Junus Takene, Ketua Kelompok Tani Mansuma di Bello, menyampaikan, penurunan ketersediaan air sudah menjadi masalah berulang selama beberapa tahun terakhir.

Menurut dia, penyebab utamanya adalah suhu yang tinggi dan kemarau berkepanjangan yang mengurangi pasokan air secara drastis.

“Kondisi menurunnya debit air ini sering kami alami terutama saat musim kemarau panjang dan suhu yang sangat panas. Akibatnya, air untuk irigasi tidak cukup jika disalurkan secara bebas,” jelas Junus.

Sebagai upaya mengatasi persoalan ini, kelompok tani Mansuma akhirnya sepakat melakukan pembagian dan penjadwalan ulang penyaluran air kepada seluruh anggota kelompok.

“Kami harus membagi jadwal penyaluran air supaya setiap petani mendapatkan jatah air yang cukup untuk tanaman mereka. Meskipun bukan solusi ideal, langkah ini sangat penting agar tanaman tidak mati kekeringan,” tambah Junus.

Langkah ini diambil sebagai solusi sementara agar air yang terbatas dapat digunakan secara optimal. Sehingga tanaman tetap bisa tumbuh meski dalam kondisi pasokan air yang minim.

Krisis air ini menjadi perhatian serius komunitas tani di Bello, mengingat ketergantungan mereka terhadap sumber air sangat tinggi untuk menunjang hasil panen.

Pemerintah daerah diharapkan dapat memberikan perhatian khusus serta solusi jangka panjang guna mengatasi persoalan ini.

Selain itu, Nimrod Bistolen, salah satu anggota kelompok tani, mengungkapkan, beberapa petani bahkan sudah berhenti menanam karena sulitnya mendapatkan air.

Menurutcdia, potensi lahan pertanian di Bello sangat bagus, namun kendala kekurangan air, terutama pada bulan Agustus hingga November, sangat menyulitkan.

“Kami berharap dinas terkait dapat memperhatikan kondisi kami. Dan memperbaiki saluran irigasi yang banyak mengalami kerusakan sehingga menghambat pengaliran air,” ujarnya.

Sumber air yang digunakan petani di Bello berasal dari mata air Oen Naineno dan mata air Oel Naipaut.

Mata air yang, ada ini terletak di wilayah RT 2 dan RT 7 Kelurahan Bello.

“Kedua sumber air tersebut menjadi tumpuan utama bagi petani dalam memenuhi kebutuhan air untuk pertanian dan penghidupan mereka. (goe).

  • Bagikan