Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Perpustakaan Keliling Hidupkan Semangat Membaca di Oetete

Anak DENGAN Oetete serbu mobil perpustakaan keliling.

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Sejak pagi, halaman SD Negeri 2 Oetete dan SD Inpres Oetete 2 tampak berbeda dari biasanya.

Keriuhan suara anak-anak bercampur dengan suasana antusias ketika sebuah mobil perpustakaan keliling milik Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi NTT terparkir di halaman sekolah itu.

Mobil biru berukuran sedang tersebut dipenuhi ratusan buku bacaan anak, mulai dari cerita rakyat, buku pengetahuan populer, hingga bacaan bergambar yang mudah dipahami. Kehadirannya sontak menjadi pusat perhatian para siswa yang berebut ingin melihat dan memilih buku.

Tiga petugas sekaligus operator mobil, yakni Emilia, Yapi, dan Ponsi, terlihat sigap melayani anak-anak. Dengan sabar mereka membantu siswa menemukan bacaan sesuai usia dan minat.

Beberapa anak terlihat langsung duduk di halaman sekolah, membuka buku, dan asyik membaca bersama teman-temannya.

“Mobil perpustakaan keliling ini diturunkan ke sekolah-sekolah untuk mendekatkan akses buku dan menumbuhkan minat baca, terutama di sekolah yang belum memiliki fasilitas perpustakaan memadai atau berada di wilayah sulit dijangkau,” jelas Ponsi, salah satu petugas.

Program perpustakaan keliling merupakan salah satu upaya nyata pemerintah daerah dalam meningkatkan literasi sejak dini. Tidak hanya menghadirkan sumber bacaan, tetapi juga menghadirkan suasana belajar yang lebih menyenangkan. Para guru pun menyambut baik program ini karena dapat menjadi tambahan sarana pembelajaran bagi siswa.

Perpustakaan keliling bukan sekadar mobil berisi buku.
Kepala Sekolah SD Negeri 2 Oetete, Rahmatia Daeng Matutu, menilai kehadiran mobil perpustakaan keliling mampu membangkitkan semangat membaca siswa.

“Buku-buku ini membuka wawasan anak-anak. Kami berharap kegiatan seperti ini lebih sering dilakukan agar kebiasaan membaca benar-benar tumbuh sejak dini,” ujarnya.

Dengan demikian, perpustakaan keliling bukan sekadar mobil berisi buku, melainkan jembatan penting yang menghubungkan anak-anak dengan dunia pengetahuan. Program ini memberi harapan baru bagi pendidikan di NTT, bahwa literasi bisa tumbuh di mana saja, bahkan di halaman sekolah sederhana.
(goe).

  • Bagikan