Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Semarak Merah Putih dari Pinggiran Kota Kupang

Merah putih berkibar di Bello, Kota Kupang.

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Di sudut-sudut negeri yang jauh dari hiruk-pikuk pusat kota, nasionalisme tak selalu hadir dengan kemegahan.

Ia tumbuh sederhana, seperti yang tampak di RW 003, Kelurahan Bello, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Di sana, sorot mata tertuju pada kibaran bendera Merah Putih yang berdiri tegak di depan rumah-rumah sederhana. Tiangnya hanya dari, batang bambu nuda, kainnya tak lagi baru, tetapi wibawa dan maknanya jauh melampaui benda itu sendiri.

Masyarakat Bello, meski hidup dengan keterbatasan ekonomi dan kerap luput dari sentuhan pembangunan infrastruktur, menunjukkan cinta tanah air tak pernah mengenal batas materi.

Menjelang peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia, tangan-tangan warga yang sederhana ini dengan sukarela menegakkan bendera, sebagai tanda hormat kepada para pahlawan yang telah mengorbankan segalanya demi sebuah kemerdekaan.

Di tengah jalan berbatu dan rumah berdinding papan, Merah Putih tetap berkibar. Seakan ia berbisik lantang: “Kami bagian dari Indonesia, dan Indonesia ada di hati kami.”

Semangat itu adalah modal sosial yang tak ternilai, yang lebih kokoh daripada bantuan materi.
Ia lahir dari kesadaran bahwa membangun bangsa harus dimulai dari setiap sudut negeri termasuk daerah pinggiran yang jarang tersorot seperti Bello.

Merah pada bendera itu adalah simbol keberanian mereka melawan segala keterbatasan; putihnya adalah ketulusan hati untuk terus menjaga persatuan.

Dari lorong-lorong sempit Bello, kita belajar bahwa nasionalisme sejati tak diukur dari fasilitas yang dimiliki, tetapi dari kemauan untuk menjaga, mengisi, dan mencintai negeri ini apa pun keadaannya.

Syamsiar (44), salah satu warga setempat, mengungkapkan harapannya agar pemerintah memberi perhatian lebih pada pembangunan di wilayah mereka.
“Selama ini di lingkungan kami hampir sebagian besar infrastruktur belum banyak berubah. Mohon perhatian, terutama perbaikan jalan yang ada,” ujarnya.

Dari pinggiran Kota Kupang, pesan itu mengalir jelas: kemerdekaan harus terus dijaga, dan Indonesia harus dibangun dari pinggiran hingga pusat dengan semangat yang sama. Karena sejatinya, Merah Putih adalah milik semua, dari istana megah hingga rumah paling sederhana di ujung negeri. (goe).

  • Bagikan