Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Sore Ini Dua TBM Baru Diluncurkan di Kupang, Kolaborasi Gereja dan Swasta Dukung Literasi Pinggiran

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Upaya peningkatan literasi di wilayah pinggiran Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, kembali mendapat angin segar.

Sore ini, Selasa (5/8), dua unit Taman Bacaan Masyarakat (TBM) baru akan resmi diluncurkan melalui kolaborasi antara Gereja Katolik Paroki Santo Fransiskus dari Assisi Kolhua dan Larissa Aesthetic Center, sebuah perusahaan kecantikan nasional yang berbasis di Jakarta.

Kedua TBM tersebut masing-masing bernama TBM Agustinus, yang berlokasi di Kapela Santo Agustinus, Kelurahan Bello, dan TBM Assisi yang berada di kompleks Paroki Santo Fransiskus dari Assisi Kolhua.

Acara peluncuran akan digelar pukul 16.00 WITA di Aula Paroki Kolhua, dan akan dihadiri langsung Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, dan Ketua Forum TBM NTT serta berbagai unsur masyarakat, tokoh agama, serta perwakilan dari perusahaan mitra.

General Manager Larissa Aesthetic Center, Caecilia Ruli Hikmawati, S.Psi., M.M., dalam keterangannya menyatakan bahwa keterlibatan perusahaannya dalam program ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial korporasi (CSR) dalam mendukung literasi dan pemberdayaan komunitas lokal, terutama di kawasan pinggiran kota.

“Kami percaya bahwa literasi adalah fondasi utama dalam membentuk manusia yang produktif dan berdaya. Program ini menjadi bentuk nyata komitmen Larissa dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia, khususnya di NTT,” ujar Lia sapaannya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa TBM tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang pembelajaran dan pertumbuhan sosial yang memberdayakan komunitas, termasuk kaum perempuan dan anak-anak.

Sementara itu, Pastor Paroki Santo Fransiskus dari Assisi Kolhua, RD Longginus Bone, menyambut baik kemitraan tersebut. Ia menyatakan bahwa program ini sejalan dengan visi Gereja Katolik dalam mendukung pendidikan informal dan pembangunan karakter umat melalui akses literasi yang lebih luas.

“Gereja hadir tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang edukasi, pembinaan moral, dan pengembangan masyarakat. TBM adalah salah satu wujud nyata keterlibatan Gereja dalam pelayanan sosial kemasyarakatan,” ujar Romo Dus Bone.

Peluncuran dua TBM ini juga diharapkan menjadi model kolaborasi antara institusi keagamaan dan sektor swasta dalam mendorong terciptanya masyarakat yang lebih cerdas, kritis, dan mandiri, terutama di wilayah-wilayah yang masih minim akses terhadap sumber daya literasi.

Program ini juga membuka peluang bagi kegiatan pelatihan, diskusi komunitas, hingga program literasi digital yang relevan dengan kebutuhan zaman.(goe).

  • Bagikan