KUPANG, FLOBAMORA-SPOT – Hari itu Sabtu 27 Mei 2023 matahari di sekitar Kelurahan Bello Kecamatan Maulafa Kota Kupang sudah mulai tampak di ufuk Timur.
Sekira pukul 06,23 sekedar ingin tau Penulis sengaja datang pagi pagi benar di daerah itu, di wilayah lingkungan RW 03 dan RW 04 yang kehidupan ekonomi sebagian besar masyarakatnya adalah Petani dan Peternak.
Di beberapa rumah Penulis melihat ada aktivitas selayaknya warga desa, meskipun wilayah itu adalah wilayah Kota Kupang.
Penulis melihat pagi itu ada sejumlah aktivitas masyarakat yang sibuk memberi makan ternak sapi, kambing dan babi di belakang rumah.
Meskipun setiap rumah hanya memiliki tidak lebih dari dua sampai tiga ekor.
Saat Penulis melangkah di salah satu sudut lingkungan itu Penulis melihat hamparan sawah luas yang sudah mulai menguning. Bahkan di bagian lain ada beberapa warga yang sibuk menyiram sayur.
Ada yang menggunakan selang dengan bantuan mesin pompa listrik.
Ada juga beberapa orang yang menyiram dengan cara manual karena daerah itu belum dialiri listrik.
Sejenak Penulis menghentikan langkah dan berdialog dengan para Petani karena kebetulan mengenal baik dengan warga tersebut.
Dia adalah Goris Takene sekaligus Ketua RW 03 kelurahan Bello.
Sekedar basah basi, sambil bersalaman kami terlibat dalam dialog seputar aktivitas Petani Bello dan kesulitan-kesulitan yang dialami warga Petani.
Takene yang juga mantan wartawan itu kepada Penulis mengaku, sumber air yang dimanfaatkan warga untuk menyiram sayur-mayur di lokasi itu dari mata air Oelneneno yang dialirkan sejauh kurang lebih satu kilometer sampai di lokasi di tempat kami berdiri saat itu.
Masih menurutnya, meskipun demikian debit air hanya bertahan dua sampai tiga bulan. Selebihnya air kering karena debit menurun.
Selanjutnya para Petani sayur akan berpindah menanam sayur di dekat sumber mata air Oelneneno setelah padi dipanen. Biasanya pada bulan Juli sampai November.
“Kami tanam di sini hanya satu atau dua bulan, selebihnya kami pindah tanam di dekat mata air setelah padi di sawah panen karena pada bulan Juli debit air sudah mulai berkurang,” jelas Takene.
Sebagaimana pantauan Penulis, jenis sayur yang ditanam oleh Petani di sana yakni, sayur bayam, sayur manis, kangkung, jagung, brokoli dan beberpa jenis lain.
Saat di temui Goris didampingi oleh David Tuan salah satu Petani di Bello yang berharap ada pihak lain termasuk pemerintah bisa membantu mereka dengan pengadaan sumur bor, agar bisa mengatasi kesulitan air di musim kemarau.
“Musim sekarang kami masi bisa tanam dengan air yang ada tetapi saat kemarau terpaksa beberapa berpindah jadi tukang bangunan karena air kering. Ada juga yang punya lahan dekat sawah bisa pindah tanam di dekat sumber mata air,” pungkas David Tuan. (Go)
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




