Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Praktik Pembuatan VCO Efektif Memperkuat Pembelajaran STEM

Pengelola TBM Gading Taruna Bello, Garis Takene.

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Praktik pembuatan virgin coconut oil (VCO) dinilai sebagai metode sederhana namun efektif untuk memperkuat penerapan pembelajaran berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) di sekolah.

Pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Gading Taruna, Kelurahan Bello, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Goris Takene, mengatakan keterlibatan siswa dalam praktik langsung, seperti mengolah kelapa menjadi VCO, membantu mereka memahami konsep sains dan teknologi secara kontekstual.

“Pembelajaran seperti ini mudah diterapkan dan efektif karena siswa belajar melalui pengalaman langsung, bukan sekadar teori,” ujar Goris di Kupang, Senin (4/5/2026).

Menurut dia, praktik tersebut merupakan contoh konkret pembelajaran STEM karena mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu dalam satu kegiatan. Dari sisi sains, siswa mempelajari proses fermentasi, kerja enzim, serta pemisahan minyak dan air.

Pada aspek teknologi, siswa memanfaatkan peralatan sederhana sekaligus memahami teknik pengolahan yang tepat.

Dalam bidang rekayasa, siswa dilatih menyusun tahapan produksi, mulai dari pengaturan suhu hingga waktu fermentasi untuk menghasilkan minyak yang jernih dan berkualitas.

Adapun dalam matematika, siswa menghitung komposisi bahan, mengukur tingkat keasaman, serta memperkirakan hasil produksi.

“Ini pembelajaran yang utuh. Siswa belajar berpikir kritis, memecahkan masalah, sekaligus menghasilkan produk yang memiliki nilai guna,” katanya.

Goris menambahkan, pendekatan berbasis praktik semacam ini layak dikembangkan lebih luas di sekolah dengan dukungan Dinas Pendidikan, terutama karena memanfaatkan bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.

Kepala SD Katolik Naikoten II Kupang, Agung Riwu, menyatakan dukungannya terhadap model pembelajaran tersebut.

Ia menilai, pendekatan berbasis praktik mampu mendorong kreativitas serta keterampilan siswa sejak usia dini.

Menurut Agung, selain praktik pembuatan VCO, siswa juga dilibatkan dalam kegiatan membuat karya sederhana, seperti jembatan mini dan rumah mini dari bahan daur ulang.

Kegiatan ini menjadi bagian dari pengenalan konsep STEM yang mengintegrasikan sains, teknologi, rekayasa, seni, dan matematika.

“Anak-anak tidak hanya memahami konsep, tetapi juga belajar berkreasi dan berinovasi dengan memanfaatkan bahan yang ada di sekitar mereka,” ujarnya.

Ia berharap, model pembelajaran berbasis praktik tersebut terus diperkuat, baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat, agar siswa terbiasa berpikir ilmiah, kreatif, dan adaptif dalam menghadapi tantangan masa depan.

Pembelajaran STEM sendiri merupakan pendekatan terintegrasi yang menggabungkan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika untuk memecahkan persoalan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Pendekatan ini bertujuan membekali siswa dengan keterampilan abad ke-21, seperti berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan analitis. (G/sintus).

  • Bagikan