KUPANG, FLOBAMORA-SPOT.COM – Kehidupan malam di Kota Kupang menawarkan berbagai pilihan kepada warganya. Tidak perlu capek – capek tinggal sentuh layar Android apa yang kita inginkan sudah bisa diperoleh. Misalnya soal “Kampung tengah” anda bisa memesan lewat Grab food.
Bagaimana dengan kebutuhan sex. Ini juga sama. Tinggal kontak Open Booking Online (BO) anda sudah bisa mendapatkan cewek “idaman” sesuai selera.
“Sudah lama saya tau ada Open BO. Sejak 2017 tapi waktu itu belum banyak. Tahun-tahun kemarin hingga sekarang ini baru banyak”, ujar Juven salah satu informan Peduli News terkait kehidupan malam.
Open BO ini seperti Grab food, menyediakan apa yang kita inginkan.
Dari kalangan mana saja tu Bro. “Ada ABG umur 17 tahun ada. 18 tahun, 19 tahun juga ada. Atau yang sudah di atas 30 – 40. Semua tersedia.
Bro kok sangat tau ya. “Ya saya tau karena berteman dengan mereka”, terangnya.
“Mereka itu dikoordinir. Ada mucikari sendiri. Jadi misalnya si BO ini dibawa mucikari mana. Dia yang kasih jalan (jual lewat aplikasi). Dia yang main aplikasi sedangkan BO siap terima. Itu masing-masing ada”, ujarnya.
Misalnya satu mucikari dua anakan (perempuan-red). Dia main aplikasi cari tamu untuk mereka. Dikoordinir itu baik juga sehingga mereka bisa diingatkan untuk jaga kesehatan (pake kondom-red). Uang yang mereka dapat juga bisa diatur. “Namanya juga ABG kalo tidak diatur uang habis percuma”, terang pria asal Rote ini.
Apa saja aplikasinya, To’o Juven ? “Ada tiga aplikasi yang dipakai yakni Michat, FB, WA. Paling banyak michat. Tawar menawar di situ. Kirim foto ceweknya ke situ. Orang mau pake, lihat dulu, bodynya, facenya. Orangnya lihat bagus, Booking dia’, kata Juven.
Lantas di mana mereka biasa berkencan Bro ? “Tempat kencan disiapkan BO. Misalnya BO buka Room di hotel Bintang. KK ada buka room di sini ni kaka datang sini sa. Si tamu mau, merapat dia. Jika tidak dia bisa tentukan sendiri tempatnya”, jelasnya.
Juven mengakui, dia tidak ada kontribusi dalam urusan bisnis ‘daging kumis’ tersebut, karena ada Mucikari yang mengatur aktivitas BO.
Ia mengatakan, aktivitas seperti ini sudah ada sebelum Lokalisasi Prostitusi Karang Dempel ditutup. “Setelah ditutup itu lebih banyak lagi”, kata dia.
Kebanyakan masih di bawah umur. Ada 16 tahun, 17, 19 tahun.
Kalangan tertentukah ? “ada yang orangtuanya orang berada (kaya-red) ada yang karena tekanan ekonomi. Banyak juga anak local”, tambahnya.
Lalu bagaimana program pencegahan HIV kepada para “BO”. Terhadap hal ini Juven mengatakan, pihaknya bersama KPAD Kota Kupang mendata mereka (BO) untuk disalurkan Kondom.
Apakah BO pasti menggunakan Kondom saat berkencan ? “Iya mereka pake. Tapi tergantung tamu. Kalau bayaran besar, tamu minta sonde pake ya BO harus mau. Kalo bayaran standar itu wajib kondom. Di sinilah persoalan besar muncul. IMS, HIV masuk.
Peran KPAD Kota Kupang meningkatkan kesadaran BO untuk menggunakan kondom harus benar-benar digenjot, jika tidak angka HIV beberapa tahun ke depan pasti tinggi.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




