Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Dua Saudara Kembar Raih Gelar Sarjana, Perjuangan Sempat Diwarnai Keraguan

Dua saudara kembar, Avelio M.D. Making, S.Pd. (Ino) dan Mario A.U. Making, S.Kom. (Rio), resmi menyandang gelar sarjana setelah menyelesaikan pendidikan di Universitas Katolik Widya Mandira (Unika) Kupang.

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Dua saudara kembar, Avelio M.D. Making, S.Pd. (Ino) dan Mario A.U. Making, S.Kom. (Rio), resmi menyandang gelar sarjana setelah menyelesaikan pendidikan di Universitas Katolik Widya Mandira (Unika) Kupang.
Keduanya mengikuti wisuda pada Sabtu (26/9/2026).
Momen tersebut kemudian dilanjutkan dengan syukuran keluarga di Kolhua, Kota Kupang, melalui perayaan ekaristi yang dipimpin Pater Charles, OCD.

Ino meraih gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.), sedangkan Rio memperoleh gelar Sarjana Komputer (S.Kom.). Keduanya merupakan putra pasangan Gabriel Emi Making dan Laurensia Meo.

Perjalanan menuju gelar sarjana itu tidak dilalui dengan mudah. Masing-masing memiliki cerita dan tantangan yang harus dilewati hingga akhirnya dapat berdiri mengenakan toga sebagai tanda telah menyelesaikan pendidikan tinggi.

Rio: Mengira Kuliah Komputer Akan Banyak Bongkar CPU
Mario A.U. Making atau Rio mengaku semula memiliki gambaran sederhana ketika mengetahui dirinya diterima di jurusan komputer.

“Waktu saya dengar saya lulus dan masuk jurusan komputer, saya langsung berpikir, wah, ini pasti bongkar-bongkar komputer. Saya pikir bakal banyak bongkar CPU, pasang ini, pasang itu. Jadi saya bilang, gas, tabrak saja,” ujar Rio.

Namun, kenyataan di bangku kuliah ternyata berbeda dari bayangannya.

“Tapi setelah masuk kuliah, ternyata ekspektasi saya tidak sesuai kenyataan. Di dalamnya justru banyak matematika,” katanya.

Di tengah perjalanan kuliah, Rio juga tetap menekuni hobinya bermain sepak bola. Ketika ada pertandingan sepak bola di daerah asalnya, ia sempat pulang dan bergabung dengan sebuah klub karena membutuhkan pemain.

Meski demikian, pengalaman tersebut tidak membuatnya melupakan tujuan utama menyelesaikan pendidikan.

Bagi Rio, keberhasilan menyelesaikan kuliah bukan semata-mata tentang memperoleh gelar akademik, melainkan tentang kemampuan bertahan ketika kenyataan tidak sesuai dengan rencana.

“Kalau Tuhan sudah membuka jalan, tetapi kita sendiri malas melangkah, ya tidak akan sampai juga,” ujarnya.

Ia mengatakan perjalanan kuliah mengajarkannya untuk tetap berusaha menghadapi berbagai tantangan, mulai dari mata kuliah, revisi tugas, hingga aktivitas belajar yang menguras waktu dan tenaga.

“Perjuangan ini bukan hanya tentang mendapatkan gelar sarjana. Ini tentang bagaimana kita tetap bertahan ketika jalan yang kita lalui tidak sesuai dengan apa yang kita bayangkan,” kata Rio.

Ino Sempat Ingin Berhenti Kuliah.

Cerita berbeda disampaikan saudara kembarnya, Avelio M.D. Making atau Ino. Ia mengaku pernah berada pada titik ketika ingin menghentikan kuliahnya.

Pada saat itu, ia merasa lelah karena beberapa kali mengalami kegagalan. Bersamaan dengan itu, di Alor berlangsung turnamen sepak bola.

Teman-temannya bahkan telah memasukkan namanya ke dalam daftar pemain.
Teman-temannya kemudian mengajaknya pulang dan bermain sepak bola bersama jika dirinya tidak lulus.

Keinginan untuk meninggalkan kuliah itu semakin kuat setelah mendapat dukungan dari sang mama di Alor. Namun, ketika rencana tersebut disampaikan kepada kedua orang tuanya, respons yang diterimanya justru berbeda.

“Kau datang ke sini untuk kuliah, bukan untuk bermain bola. Kampus mana yang masih membuka pendaftaran? Kau daftar saja,” demikian pesan orang tuanya kepada Ino.

Pesan tersebut menjadi titik balik bagi Ino untuk kembali mencoba melanjutkan pendidikan.

Pesan Pater Charles.
Dalam homilinya pada perayaan syukur tersebut, Pater Charles, OCD, mengajak Ino dan Rio tidak berhenti pada pencapaian gelar akademik.

Menurut pater, ijazah, gelar, dan toga merupakan tanda bahwa keduanya telah menyelesaikan satu tahap penting dalam perjalanan hidup. Namun, setelah menjadi sarjana, masih ada tanggung jawab yang harus dijalani.

“Sarjana seperti apakah yang akan kalian bawa dalam perjalanan hidup selanjutnya?” kata Pater Charles dalam homilinya.

Pater Charles juga mengingatkan bahwa perjalanan pendidikan yang telah dilalui bukan semata-mata hasil usaha pribadi.

“Untuk mencapai titik ini ada jerih payah orang tua, ada doa-doa yang dipanjatkan, ada uluran tangan dari orang-orang yang mungkin tidak selalu kita sadari. Dan yang paling penting, ada penyertaan Allah,” katanya.

Bagi keluarga Making, wisuda Ino dan Rio menjadi momentum syukur sekaligus penanda dimulainya tahap baru dalam perjalanan hidup kedua saudara kembar tersebut.

Dua toga yang dikenakan pada hari wisuda itu bukan hanya menandai gelar akademik, tetapi juga merekam perjalanan panjang yang diwarnai kegagalan, keraguan, perjuangan, dukungan keluarga, serta keyakinan untuk terus melangkah. (goe).

  • Bagikan