Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Pembelajaran STEM, Kunci Perkuat Nalar dan Keterampilan Siswa

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Pemerintah Kota Kupang menilai penguatan pembelajaran berbasis substantif melalui pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) menjadi langkah penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya dalam membangun kemampuan berpikir kritis peserta didik.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Oktovianus Naitboho, saat membuka kegiatan praktik pembelajaran STEM dalam pemenuhan standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, dan standar penilaian pendidikan, Selasa (5/5/2026).

Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, di Kupang.

Menurut Naitboho, kondisi pendidikan saat ini belum sepenuhnya mencapai kualitas yang diharapkan. Berbagai program telah dijalankan, namun dampaknya terhadap peningkatan kemampuan berpikir peserta didik dinilai belum signifikan.

“Akar persoalan ini terletak pada rendahnya literasi, lemahnya kemampuan berpikir kritis, serta keterbatasan peserta didik dalam mengaplikasikan teori ke dalam situasi nyata,” ujarnya.

Ia mengakui, salah satu faktor penyebab kondisi tersebut adalah proses pembelajaran di kelas yang masih didominasi pendekatan hafalan dan penguasaan konsep semata. Mengacu pada hasil survei internasional seperti PISA, sekitar 95 persen peserta didik Indonesia mampu menjawab soal berbasis hafalan atau berpikir tingkat rendah.

Namun, hanya sekitar 1 persen yang mampu menyelesaikan soal yang menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi.

“Ini bukan semata kesalahan peserta didik, melainkan cerminan dari proses pembelajaran yang berlangsung di kelas,” kata dia.

Karena itu, Naitboho, menekankan pentingnya pendidikan substantif yang mengintegrasikan teori dengan praktik kehidupan nyata.

Pendekatan ini, menurut dia, sejalan dengan konsep pembelajaran STEM yang menggabungkan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika dalam satu kesatuan.

Melalui pendekatan tersebut, peserta didik didorong untuk mengidentifikasi persoalan di lingkungan sekitar, menganalisisnya secara ilmiah, mencari solusi berbasis teknologi, merancang produk atau inovasi, serta menghitung dampaknya secara terukur.

Ia mencontohkan, pengelolaan sampah di lingkungan sekolah dapat menjadi media pembelajaran terpadu. Peserta didik dapat mempelajari klasifikasi sampah (sains), memanfaatkan teknologi sederhana untuk pengolahan (teknologi), merancang produk bernilai ekonomi (rekayasa), serta menghitung nilai ekonominya (matematika).

“Pembelajaran tidak boleh berhenti pada teori, tetapi harus menghasilkan keterampilan nyata yang berdampak langsung pada kehidupan,” ujarnya.

Ke depan, ia menilai perlu adanya penguatan kapasitas guru agar mampu merancang pembelajaran yang integratif dan kontekstual. Guru diharapkan tidak lagi sekadar menyampaikan materi, melainkan berperan sebagai fasilitator yang membimbing peserta didik untuk berpikir, menganalisis, dan mencipta.

Selain itu, dukungan kebijakan pendidikan yang berorientasi pada peningkatan kualitas pembelajaran, bukan sekadar aspek administratif, juga dinilai penting.

Penataan sistem, penguatan peran kepala sekolah, serta pengembangan profesional guru perlu dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.

“Pada akhirnya, kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas proses pembelajaran di kelas,” kata Naitbohi.

Sementara itu, Ketua Tim penyelenggara, Tatik Soroeida, dari Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan Kemendikdasmen RI menyampaikan bahwa, uji publik praktik pembelajaran STEM ini bertujuan memastikan proses pendidikan berjalan relevan dan efektif serta mampu membekali peserta didik dengan keterampilan.

“Keterampilan tersebut meliputi berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan kemampuan pemecahan masalah,” ujarnya.

Menurut Tatik, uji publik juga menjadi bagian dari akuntabilitas sekaligus evaluasi mutu pendidikan untuk memastikan keselarasan antara praktik pembelajaran di kelas dengan standar yang telah ditetapkan. (goe).

  • Bagikan