Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Tak Lagi Mengajar di Kelas, Damaris Rihi Menjaga Panggilan Jiwa sebagai Guru Lewat Les Privat

Damaris Rihi, S.Pd., Gr.

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Mimpi untuk berdiri di depan ruang kelas dan mencerdaskan anak bangsa pernah menjadi cita-cita besar Damaris Rihi, S.Pd., Gr.

Perempuan kelahiran Sabu, 30 Juli 1992 itu bahkan berhasil mewujudkan impian tersebut setelah menyelesaikan pendidikan guru Biologi dan sempat mengajar di salah satu sekolah negeri di Kota Kupang.

Namun perjalanan hidup membawanya pada jalur yang sedikit berbeda.

Pada tahun 2024, ketika pemerintah membuka seleksi ASN Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), sekolah tempatnya mengajar hanya membuka sstu formasi guru. Kecuali formasi yang tersedia saat itu adalah untuk tenaga administrasi sekolah.

Damaris pun mengambil keputusan penting. Ia melamar pada formasi tersebut dan akhirnya dinyatakan lulus sebagai PPPK pengelola administrasi sekolah di salah satu SMP Negeri di Kota Kupang, jabatan yang ia jalani hingga saat ini.

Saat ditemui di sekolahnya pada Selasa (10/3/2026), Damaris mengaku menerima tugas barunya dengan penuh tanggung jawab meskipun latar belakang pendidikannya adalah sebagai guru.

“Sebagai ASN PPPK saya tetap menjalankan tugas yang dipercayakan kepada saya sebagai pengelola administrasi sekolah. Walaupun latar belakang saya guru, saya berusaha bekerja sebaik mungkin,” ujarnya.

Meski kini lebih banyak berurusan dengan administrasi sekolah, kecintaannya terhadap dunia pendidikan tidak pernah pudar.

Setiap selesai menjalankan pekerjaan kantor, ia kembali menjalani peran yang selama ini menjadi panggilan hatinya: mengajar.

Di rumahnya di RT 007/RW 003 Kelurahan Bello, Damaris membuka les privat bagi anak-anak di lingkungan sekitar.

Kegiatan tersebut baru berjalan sekitar satu bulan, dengan lima orang anak yang rutin datang untuk belajar. Tidak dipungut biaya alias gratis, tetapi ke depan menurutnya pasti berbayar.

Bagi Damaris, kegiatan itu bukan sekadar tambahan penghasilan, melainkan cara untuk menjaga semangatnya sebagai seorang pendidik.

“Saya tidak ingin kemampuan mengajar saya hilang. Mengajar itu sudah menjadi bagian dari hidup saya,” katanya.

Menurutnya, menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan panggilan jiwa untuk membantu generasi muda memahami ilmu dan membentuk karakter mereka.

Ia merasa kebahagiaan tersendiri ketika melihat anak-anak yang awalnya kesulitan memahami pelajaran akhirnya bisa mengerti.

“Rasanya sangat membahagiakan ketika melihat anak-anak yang sebelumnya tidak tahu menjadi paham. Itu kepuasan batin yang sulit digantikan oleh pekerjaan lain,” ujarnya.

Damaris juga percaya bahwa guru memiliki peran besar dalam kehidupan seorang anak, bahkan setelah orang tua.

“Guru ikut membentuk masa depan anak-anak. Karena itu saya merasa terpanggil untuk tetap mengajar, walaupun sekarang tugas utama saya di sekolah adalah administrasi,” katanya.

Baginya, mengajar juga merupakan proses belajar yang tidak pernah berhenti. Setiap anak memiliki karakter berbeda sehingga menuntut guru untuk terus kreatif dalam menyampaikan pelajaran.

“Setiap anak berbeda. Itu yang membuat proses mengajar selalu menarik dan menantang,” ungkapnya.

Damaris merupakan anak kelima dari enam bersaudara, putri dari Martinus Rihi (Almarhum) dan Taroci Naguru.

Di tengah kesibukannya sebagai pegawai administrasi sekolah, ia membuktikan bahwa semangat menjadi guru tidak selalu harus dibatasi oleh ruang kelas formal. Dari ruang sederhana di rumahnya, ia tetap berusaha menyalakan semangat belajar bagi anak-anak di lingkungannya. (goe).

  • Bagikan