Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Pagi di Teras Main Indonesia: Rayakan Kearifan Lokal, Dari Indonesia untuk Dunia

Di antara ribuan data permainan rakyat Indonesia se-pelosok Nusantara terdapat sejumlah deretan gasing kayu versi Timor dan bola kasti anyaman daun lontar turut meramaikan acara Teras Main Indonesia di TMI Sabtu pagi (15/11/2025).

 

JAKARTA, FLOBAMORA–SPOT — Pagi itu, pukul 10.00 WIB, suasana di Teras Main Indonesia yang digelar Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) Pusat terasa begitu hidup.

Gelak tawa anak-anak, riuh langkah para pengunjung, serta denting-denting kayu dari aneka permainan tradisional seolah menghidupkan kembali memori lama tentang Indonesia yang kaya akan kearifan lokal.

Acara yang berlangsung hingga pukul 14.00 WIB ini digelar untuk satu tujuan mulia: melestarikan kreasi kegembiraan Nusantara dan mengangkatnya kembali, dari Indonesia, untuk dunia.

Di antara deretan permainan dari seluruh penjuru negeri, dua benda sederhana namun sarat makna menarik perhatian banyak pengunjung.

Yang pertama adalah gasing kayu khas Timor, dengan bentuk ramping dan ukiran sederhana namun kuat menggambarkan karakter masyarakatnya, tangguh dan penuh energi. Tidak jauh dari situ, bola kasti dari Lembata yang terbuat dari anyaman daun lontar tersusun rapi. Bahan alaminya menampilkan kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat kepulauan di NTT.

Keduanya menjadi favorit pengunjung, terutama kalangan muda yang penasaran bagaimana permainan tradisional ini dimainkan di daerah asalnya. Pojok data permainan rakyat NTT pun menjadi titik keramaian tersendiri.

Arsjad Rasjid: “Permainan rakyat adalah bahasa persatuan kita”

Ketua KPOTI terpilih periode 2025–2030, Arsjad Rasjid, menegaskan bahwa pelestarian permainan rakyat adalah bagian penting dari merawat jati diri bangsa.

“Permainan rakyat bukan sekadar hiburan. Ia adalah bahasa persatuan, ruang belajar nilai, dan cermin kearifan lokal kita. KPOTI ingin memastikan bahwa setiap anak Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, tetap bisa merasakan kegembiraan yang diwariskan leluhur kita. Inilah yang ingin kita bawa ke dunia,” ujarnya.

Arsjad juga menyambut baik semangat daerah-daerah seperti NTT yang selalu hadir dengan kekuatan budaya yang autentik dan kreatif.

Goris Takene: “NTT datang bukan hanya membawa permainan, tetapi juga identitas”

Sementara itu, Goris Takene, Ketua KPOTI Kota Kupang yang memimpin delegasi pameran permainan rakyat asal NTT, menyatakan kebanggaannya dapat tampil di acara ini.

“NTT datang bukan hanya membawa permainan tradisional, tetapi juga membawa identitas kami. Gasing Timor, bola kasti daun lontar dari Lembata, keduanya adalah cerita hidup masyarakat kami. Dengan memamerkannya di Jakarta, kami ingin menunjukkan bahwa NTT siap menjadi bagian dari gerakan besar pelestarian budaya nasional,” kata Goris.

Ia berharap acara seperti Teras Main Indonesia digelar rutin dan melibatkan lebih banyak anak serta komunitas lokal agar budaya permainan tidak hanya dipamerkan, tetapi juga kembali dipraktikkan.

Suasana meriah, wajah-wajah bahagia, serta bangkitnya kembali permainan rakyat pagi itu menjadi pengingat sederhana: bahwa kegembiraan Indonesia sejatinya lahir dari hal-hal yang paling dekat, paling sederhana, dan paling mengakar dalam budaya kita. (goe).

  • Bagikan