KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Pembangunan Kapela Santo Paulus Bello di wilayah Paroki Santo Fransiskus Asisi Kolhua, Kota Kupang, memasuki babak baru.
Pelantikan panitia pembangunan yang digelar dalam Perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-30, Minggu (26/10/2025), menjadi titik awal kebangkitan semangat gotong-royong umat untuk menuntaskan proyek rumah ibadah yang telah berproses sejak tahun 2017.
Proyek yang diawali dengan peletakan batu pertama pada 22 Januari 2017 ini bukan hanya simbol religius, tetapi juga berperan sebagai penggerak ekonomi komunitas di wilayah Bello.
Selama delapan tahun berjalan, aktivitas pembangunan turut menghidupkan ekonomi lokal, mulai dari sektor material bangunan, jasa konstruksi, hingga konsumsi harian pekerja.
Ketua Panitia Pembangunan yang baru dilantik, Marsel Tika, menegaskan komitmennya untuk melanjutkan pembangunan secara bertahap dan lebih terstruktur.
“Pembangunan ini sudah melewati tiga tahap besar, mulai dari pekerjaan dasar hingga struktur atap. Kini kami fokus menyelesaikan pekerjaan atap dan penyempurnaan interior. Basement sudah rampung dan siap dimanfaatkan untuk kegiatan umat,” ujarnya.
Marsel menambahkan, kehadiran panitia baru menjadi momentum penting untuk mengonsolidasikan dukungan umat, termasuk dalam pengelolaan dana pembangunan.
Ia menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam setiap tahapan proyek agar kepercayaan umat tetap terjaga.
“Kami berharap seluruh umat terlibat aktif. Setiap rupiah dan tenaga yang diberikan adalah investasi iman dan kebersamaan untuk generasi mendatang,” katanya.
Efek Ekonomi dan Sosial.
Menurut pengamatan warga sekitar, kegiatan pembangunan kapela telah menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian lokal. Sejumlah pemasok bahan bangunan di wilayah Bello, Kolhua dan sekitarnya mengaku mengalami peningkatan permintaan sejak proyek ini dimulai. Selain itu, banyak pekerja lokal turut dilibatkan, memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga di tengah kondisi ekonomi yang menantang.
Pastor Paroki Kolhua, RD Longginus Bone, menegaskan, pembangunan rumah ibadah tidak hanya bermakna spiritual, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan ekonomi umat.
“Bangunan yang kokoh tidak hanya berdiri dari batu dan semen, tetapi dari hati umat yang bersatu dan saling menopang. Setiap partisipasi, sekecil apa pun, memperkuat daya tahan ekonomi komunitas,” ujarnya.
Ia juga mendorong panitia untuk mengembangkan model pembiayaan partisipatif berbasis komunitas, termasuk pemanfaatan dana swadaya umat dan kolaborasi dengan para donatur lokal.
Simbol Ekonomi Iman dan Kebersamaan.
Meski telah empat kali mengalami pergantian panitia sejak dimulai, pembangunan Kapela Santo Paulus Bello tetap menjadi simbol ketekunan dan kolaborasi ekonomi umat basis. Dengan struktur basement yang telah rampung, proyek ini kini berfokus pada penyelesaian atap dan tahap akhir konstruksi yang diharapkan dapat selesai dalam waktu dekat.
Bagi umat Bello, pembangunan kapela bukan sekadar proyek fisik, tetapi juga refleksi tentang bagaimana solidaritas dan gotong royong dapat menjadi pilar pembangunan ekonomi berbasis komunitas.
“Setiap kali umat berkumpul untuk bekerja, menyumbang, atau berdoa bersama, sesungguhnya mereka sedang membangun dua hal sekaligus: rumah Tuhan dan fondasi ekonomi umat,” ujar Marsel menutup keterangannya. (goe).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




