Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Hijau dan Coklat: Pelajaran Damai dari Alam

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Pagi ini, ketika sejumlah media nasional menyajikan peristiwa-peristiwa yang mengusik nurani.

Saya kembali diingatkan: pertengkaran tidak pernah melahirkan pemenang sejati. Yang tersisa hanyalah luka, perpecahan, bahkan kehancuran ketika ego lebih dijunjung dari pada kerukunan.

Hijau dan coklat sesungguhnya adalah sahabat lama. Hijau adalah daun dan rerumputan yang menghadirkan kesegaran dan kehidupan.

Coklat adalah tanah yang menopang, menghidupi, dan memberi ruang tumbuh. Tanpa coklat, hijau tak pernah hadir.

Tanpa hijau, coklat menjadi tandus dan mati. Mereka diciptakan bukan untuk saling meniadakan, melainkan untuk saling melengkapi.

Namun, jika perbedaan dibiarkan berubah menjadi pertengkaran, cepat atau lambat kita semua akan tergilas oleh “ban” kehidupan: kesedihan, perpecahan, dan kehilangan damai.

Pertanyaan pentingnya bukan lagi “siapa yang menang”, melainkan “apakah kita masih bisa berjalan bersama”.

Tanah butuh rumput, rumput butuh tanah. Demikian pula manusia: kita tak bisa hidup seorang diri. Damai hanya lahir ketika kita berani menundukkan ego, merendahkan hati, dan menatap sesama bukan sebagai lawan, melainkan sebagai saudara.

Kisah hijau dan coklat memberi kita pesan sederhana sekaligus mendalam: jangan biarkan perbedaan berubah menjadi alat untuk saling menggilas.

Sebaliknya, mari kita tumbuh bersama, saling menopang, dan menghidupi. Karena hanya dengan itulah kehidupan bisa benar-benar bernama kehidupan. (Goris Takene
Disdikbud Kota Kupang).

  • Bagikan