KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Halaman Stasi Santo Agustinus Bello, Paroki Santo Fransiskus dari Asisi Kolhua, Kupang, bergemuruh oleh irama gawi.
Anak-anak sekolah dasar hingga menengah pertama tampil penuh semangat dalam lomba gawi.
Lomba ini menjadi bagian dari perayaan pesta pelindung Gereja Stasi Santo Agustinus yang dirayakan setiap tahun pada 28 Agustus.
Sebanyak delapan tim tampil silih berganti. Lingkaran-lingkaran kecil terbentuk, kaki-kaki mungil menapak ritmis mengikuti alunan lagu Sa Ate. Sorak penonton menyatu dengan musik tradisional, menjadikan suasana penuh sukacita.
“Lomba ini bukan sekadar hiburan, tetapi sarana bagi anak-anak untuk mencintai budaya mereka sendiri. Kami ingin sejak dini mereka merasa bangga dan tidak asing dengan tradisi leluhur,” kata Agustinus Nebon Koten, salah satu panitia penyelenggara, Senin (25/8/25).
Gawi, tarian tradisional masyarakat Lio di Ende, Flores, memang sarat makna.
Ia melambangkan persatuan, kebersamaan, dan syukur kepada Tuhan. Dalam bahasa Lio, ga berarti segan, sementara wi berarti menarik. Jika digabungkan, gawi adalah gerakan yang mengundang, menarik, sekaligus merangkul siapa pun untuk ikut merayakan kehidupan bersama.
Dewan juri dari kalangan praktisi seni budaya.
Untuk menjaga objektivitas, panitia menghadirkan dewan juri dari kalangan praktisi seni budaya, yaitu Kamilus Longo, Lefi Leta, dan Elias Djoka, yang dikenal luas di ranah seni NTT.
Ketua Stasi Santo Agustinus Bello, Donatus Manehat, menegaskan pentingnya menjaga warisan budaya di tengah arus modernisasi.
“Kami ingin pesta pelindung tidak hanya dimaknai secara rohani, tetapi juga menjadi momentum untuk menghidupkan kembali tradisi. Gawi adalah jati diri kita sebagai orang NTT, dan di sinilah kita wariskan kepada generasi muda,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Tim Juri, Lefi Leta, mengapresiasi penampilan para peserta.
“Dari segi budaya, kami bangga karena anak-anak sudah berani tampil dan menunjukkan kecintaan pada tradisi, meskipun tidak semua berasal dari Ende. Secara umum, penampilan semuanya bagus. Namun karena ini lomba, tentu kami menilai berdasarkan kriteria yang ditetapkan panitia. Seperti formasi dan jumlah penari, keseragaman, gerakan, serta kekompakan. Ada yang nilainya tinggi, ada juga yang rendah, tetapi jangan berkecil hati. Tujuannya semata-mata untuk memeriahkan pesta pelindung Stasi. Atas nama tim juri, saya menyampaikan terima kasih,” ujarnya.
Lomba gawi anak-anak ini menjadi bukti bahwa tradisi tak pernah lekang oleh waktu. Di tanah Timor, gawi terus membahana mengikat, menyatukan, dan memberi warna pada setiap perayaan kehidupan. (Goe).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




