
KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Di tengah situasi umat beragama yang kadang terusik oleh perbedaan tafsiran Kitab Suci hingga menimbulkan ketegangan antar tokoh umat, justru lahir sebuah peristiwa sederhana namun penuh makna.
Seorang anggota jemaat Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) dengan rendah hati datang menemui seorang pimpinan umat Katolik. Ia tidak membawa perdebatan, melainkan kerinduan tulus: meminta doa dan berkat dari seorang pimpinan umat Katolik.
Momen itu berlangsung dalam suasana hening dan khidmat. Sang pemimpin Katolik mengenakan stola doa, mengangkat tangan, dan melantunkan doa berkat, sementara saudara dari GMIT duduk dengan penuh ketenangan dan kerendahan hati.
Peristiwa ini memberi pesan kuat, akan doa dan kerinduan akan berkat Tuhan jauh lebih besar daripada sekat perbedaan tafsiran. Kedua tokoh yang mewakili dua tradisi iman berbeda, justru menunjukkan wajah kerukunan yang sesungguhnya saling menghormati dan mendoakan.
Di saat banyak pihak sibuk mempertentangkan perbedaan, langkah kecil namun bernilai besar ini mengingatkan kita bahwa yang terpenting bukanlah siapa yang paling benar dalam menafsirkan Kitab Suci, melainkan siapa yang paling sungguh menghadirkan kasih dan damai di tengah masyarakat.
Doa lintas iman ini menjadi kesaksian nyata bahwa kerukunan berawal dari hati yang tulus, bukan dari adu tafsir. Sebuah teladan kecil, namun mampu menyinari banyak hati. (Goris Takene).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




