Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Politani Kupang Gandeng PKBM Gading Taruna Kembangkan Outlet Digital, Ini Tujuannya

Dua Goris sedang bicara transformasi pengembangan outlet penjualan hasil pertanian berbasis digital.

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Dosen Politeknik Pertanian Negeri Kupang (Politani Kupang), Gregorius G. Batafor, SE., MM., menggandeng Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Gading Taruna (GT) di Kelurahan Bello, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, untuk mengembangkan outlet penjualan hasil pertanian berbasis digital.

Kolaborasi ini merupakan bagian dari upaya memperkuat distribusi langsung antara petani lokal dan konsumen melalui konsep farm-to-table.

Proyek ini dirancang sebagai model integratif yang tidak hanya memperpendek rantai distribusi hasil pertanian. Tetapi juga memberdayakan masyarakat melalui pelatihan dan pemanfaatan teknologi pemasaran digital.

“Kami sedang memulai tahap awal, yakni perekrutan tenaga teknis untuk pemasaran digital, desain konten, perencanaan produksi. Serta pembukuan dan analisis usaha. Target kami sederhana. Bagaimana petani bisa lebih cepat dan efisien menjangkau konsumen,” ujar Goris Batafor saat ditemui di Kupang, Kamis (31/7/2025).

Langkah konkret lainnya yang sedang disiapkan adalah pembangunan outlet fisik sebagai titik penjualan hasil hortikultura. Sekaligus merancang sistem promosi berbasis online-to-offline (O2O) yang memungkinkan konsumen memesan secara daring dan mengambil produk secara langsung.

Pengelola PKBM Gading Taruna Kupang, Goris Takene, menyebut, kerja sama ini sejalan dengan semangat kemandirian komunitas.

“Zaman sekarang menuntut petani harus lebih kreatif, terutama dalam pemasaran. Tidak cukup hanya menanam, tapi juga harus bisa menjual langsung ke pasar, bahkan ke konsumen rumah tangga,” ungkapnya.
Ia berharap, inisiatif ini bisa menjadi percontohan bagi kelurahan lain di Kota Kupang maupun Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menghadapi tantangan distribusi dan pemasaran hasil pertanian.

Proyek ini juga membuka peluang kolaborasi lebih luas, termasuk dengan pelaku usaha kecil menengah (UKM). Dan lembaga pendidikan vokasi, guna menciptakan ekosistem pertanian yang efisien, berkelanjutan, dan berbasis teknologi. (goe).

  • Bagikan