KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar Pembinaan Komunitas Penggerak Literasi Tahun 2026 di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTT, Kota Kupang, pada 3–5 Juni 2026.
Kegiatan yang diikuti sekitar 40 pegiat literasi dari berbagai daerah di NTT itu diarahkan untuk memperkuat kapasitas organisasi, meningkatkan kualitas karya, serta memperluas kolaborasi antarkomunitas.
Pembinaan yang berlangsung selama tiga hari tersebut menjadi ruang belajar bersama bagi para penggerak literasi yang selama ini aktif membangun budaya baca dan menulis di tengah masyarakat.
Melalui berbagai sesi pelatihan dan diskusi, peserta memperoleh penguatan terkait pengelolaan organisasi, pengembangan karya literasi, hingga strategi membangun jejaring dan kerja sama yang berkelanjutan.
Ketua panitia, Zuddi Ichwan, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas individu, tetapi juga mendorong komunitas literasi agar semakin profesional dan produktif.
“Peserta dapat saling berbagi pengalaman, mendiskusikan tantangan yang dihadapi, sekaligus mencari solusi bersama untuk mengembangkan komunitas dan meningkatkan produktivitas karya,” ujarnya.
Kepala Balai Bahasa Provinsi NTT, R. Hery Budiono,saat membuka kegiatan Rabu (3/6-2026) menegaskan, bahwa literasi harus dipahami lebih luas daripada sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi mencakup kemampuan memahami, mengolah, serta memanfaatkan informasi untuk meningkatkan kualitas hidup.
“Esensi literasi adalah bagaimana pengetahuan yang diperoleh dapat digunakan untuk mengembangkan diri dan memberi manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Menurut Hery, komunitas literasi memiliki peran strategis dalam menumbuhkan budaya membaca, menulis, dan berpikir kritis. Karena itu, penguatan komunitas serta pengutamaan bahasa Indonesia perlu terus dilakukan secara berkelanjutan agar gerakan literasi semakin berkembang dan menjangkau berbagai wilayah di NTT.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga menampilkan berbagai karya literasi yang telah dihasilkan komunitas masing-masing.
Pameran karya itu menjadi sarana apresiasi sekaligus ruang berbagi inspirasi dan praktik baik antarkomunitas.
Pegiat literasi NTT,
Robertus Fahik, menilai pembinaan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat jejaring literasi di daerah.
“Kegiatan ini membuka ruang kolaborasi yang lebih luas. Komunitas dapat saling belajar, bertukar pengalaman, dan merancang langkah bersama untuk memperkuat budaya baca di masyarakat,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Gading Taruna NTT, Gregorius Takene. Menurut dia, pembinaan tersebut diharapkan menghasilkan kerja sama nyata yang berkelanjutan sehingga gerakan literasi tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Kami berharap kolaborasi yang terbangun melalui kegiatan ini dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak masyarakat hingga ke tingkat akar rumput,” katanya.
Melalui pembinaan, Balai Bahasa NTT berharap lahir berbagai inovasi, karya, dan kolaborasi baru yang mampu memperkuat ekosistem literasi serta menumbuhkan budaya baca di Nusa Tenggara Timur. (goe).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




