Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Gua Monyet Alak, Jejak Alam dan Budaya yang Menunggu Kepastian Perlindungan

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Kekayaan budaya Kota Kupang kembali menyita perhatian. Rabu (28/1/2026), Tim Pendataan Potensi Situs Budaya dari Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang melakukan pendataan pada sebuah gua alam yang oleh warga setempat dikenal sebagai Gua Monyet, karena kini menjadi habitat ratusan monyet liar.

Gua ini terletak di RT 24/RW 07, Kelurahan Alak, Kecamatan Alak, dan berada di atas tanah milik keluarga Pendeta Sam Kay, yang saat ini dijaga oleh Aholiat M. Kay.

Selain nilai ekologisnya, gua tersebut menyimpan jejak sejarah dan budaya yang diyakini telah ada sejak ratusan tahun lalu.

Menurut penuturan Aholiat M. Kay di hadapan tim pendata, pada masa lalu di dalam lubang gua terdapat berbagai peralatan dapur dari tanah liat serta hiasan berupa patung-patung, yang menunjukkan aktivitas manusia pada masa lampau.

Benda-benda tersebut kemudian dipindahkan oleh orang tuanya untuk diamankan, demi menghindari kerusakan atau kehilangan.

Pendataan ini dipimpin langsung oleh Kepala Bidang Kebudayaan Dinas P dan K Kota Kupang, Serlin Tiro, S.STP., M.Si. Ia menegaskan bahwa kegiatan pendataan merupakan langkah awal untuk memastikan nilai historis dan budaya situs tersebut terdokumentasi dengan baik.

“Pendataan ini penting sebagai dasar pengakuan dan perlindungan situs budaya. Kami ingin memastikan bahwa setiap potensi sejarah yang ada di Kota Kupang dicatat secara resmi, dengan tetap menghormati hak pemilik lahan dan kearifan lokal,” ujar Serlin Tiro.

Namun demikian, di balik potensi besarnya, Gua Monyet juga menyimpan persoalan pengelolaan. Aholiat M. Kay mengungkapkan bahwa sejak beberapa tahun terakhir, pihak keluarga tidak lagi bekerja sama dengan Pemerintah Kota Kupang terkait pengelolaan gua tersebut.

Hal ini disebabkan oleh ketidakkonsistenan kesepakatan, khususnya menyangkut kontribusi kepada keluarga sebagai pemilik tanah.

Ia juga meminta agar tim pendata dapat bertemu langsung dengan orang tuanya, karena terdapat informasi penting lain yang belum banyak diketahui publik.

Di dalam salah satu lubang gua, terdapat bekas telapak tangan manusia yang melekat pada dinding batu.

Untuk mencapai lokasi tersebut diperlukan waktu dan tenaga ekstra, mengingat kondisi lubang gua yang cukup terjal dan sulit diakses.

“Saya pernah mengantar beberapa peneliti masuk ke dalam gua untuk mengambil data. Dari kajian awal, bekas telapak tangan itu diperkirakan sudah ada sejak sekitar 500 tahun lalu,” ungkap Aholiat.

Keberadaan Gua Monyet Alak menjadi pengingat bahwa alam dan budaya kerap berjalan beriringan.

Di balik rimbun pepohonan dan suara monyet liar, tersimpan jejak peradaban yang menunggu perhatian, dialog, dan keseriusan semua pihak agar dapat dilindungi sebagai warisan budaya Kota Kupang untuk generasi mendatang. (goe).

  • Bagikan