KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Kebahagiaan datang beriringan bagi Enjelita Susana Boeky (22).
Di usia muda, perempuan darah Sabu Raijua Nusa Tenggara Timur ini berhasil menorehkan prestasi penting dengan lolos seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Tahap II Tahun 2025.
Tak hanya itu, Enjelita juga baru saja melangkah ke babak baru kehidupan melalui prosesi peminangan adat Sabu Raijua yang dikenal dengan sebutan kenoto.
Enjelita yang kini bertugas sebagai tenaga administrasi pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang mengaku bersyukur atas rangkaian berkat yang ia terima hampir bersamaan.
Sebagai anak pertama dari empat bersaudara, ia memandang kelulusan PPPK dan acara adat kenoto sebagai amanah besar yang harus dijalani dengan tanggung jawab dan kedewasaan.
Prosesi kenoto adat Sabu Raijua tersebut telah berlangsung pada Sabtu, 17 Januari 2026, di kediaman keluarga besar Riki Boeky, Kelurahan Oebobo, Kota Kupang.
Acara ini akan mempertemukan dua keluarga besar dalam ikatan adat dan budaya, sekaligus menandai peminangan resmi Enjelita dengan calon suaminya, Ezra Putislilut.
“Saya sangat bersyukur kepada Tuhan, keluarga, dan semua sahabat yang selalu mendukung. Lolos PPPK ini adalah hasil dari proses panjang, doa, dan perjuangan. Sementara kenoto adalah langkah awal membangun masa depan bersama pasangan,” ungkap Enjelita saat ditemui di Kupang Sabtu pagi.
sementara itu Markus Dju Djani perwakilan keluarga Buku secara terpisah mengatakan, kenoto bukan sekadar prosesi seremonial, melainkan wujud penghormatan terhadap nilai-nilai adat Sabu Raijua yang dijunjung tinggi oleh keluarga besar.
“Kenoto adalah simbol penyatuan dua keluarga. Ini bukan hanya tentang kedua calon pasangan suami istri, tetapi tentang menjaga martabat adat dan budaya yang diwariskan leluhur,” jelas Markus.
Kebahagiaan Enjelita kian lengkap karena saat ini ia tengah mengandung tujuh bulan. Kehamilan tersebut disambut penuh sukacita oleh keluarga dan rekan-rekan kerja, serta menjadi sumber semangat baru dalam menjalani peran ganda sebagai calon aparatur negara dan calon ibu.
Dukungan pun mengalir dari lingkungan kerja. Salah satunya disampaikan Tirsa Djami, rekan kerja sekaligus teman seperjuangan Enjelita, yang menyebutnya sebagai sosok pekerja keras dan pantang menyerah.
“Kami semua ikut bangga. Enjelita adalah pribadi yang tekun, bertanggung jawab, dan konsisten berjuang. Kelulusannya sebagai PPPK serta rencana kenoto ini membuktikan bahwa kerja keras dan doa tidak pernah mengkhianati hasil,” ujar Tirsa.
Ia menambahkan, kondisi kehamilan Enjelita justru mencerminkan kedewasaan dan kesiapan menjalani peran sebagai abdi negara sekaligus membangun keluarga.
“Enjelita memberi teladan bahwa perempuan muda bisa tetap berprestasi, menghormati adat, dan membangun keluarga secara terhormat. Kami mendoakan agar prosesi kenoto berjalan lancar dan keluarga barunya selalu diberkati,” pungkasnya.
Kisah Enjelita Susana Boeky menjadi potret perjuangan, kesetiaan pada nilai adat, serta harapan masa depan, di mana pencapaian karier dan kebahagiaan keluarga dirajut dalam satu langkah penuh makna. (goe).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




