Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Kepala Balai Bahasa NTT Tegaskan, Kompetensi Awak Media Harus Dikuatkan

Para peserta kegiatan peningkatan kemahiran berbahasa Indonesia bersama Kepala Balai Bahasa NTT Hery Budhiono dan Koordinator Panitia kegiatan dari KKLP Pembinaan dan Bahasa Hukum, Christine Mukin usai kegiatan hari pertama Rabu (7/5/25).

 

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT —– Balai Bahasa NTT mengadakan kegiatan “Peningkatan kemahiran berbahasa: penyegaran kompetensi berbahasa, bagi wartawan media massa se-provinsi NTT tahun 2025”.

Kegiatan berlangsung di aula Nusantara kompleks Balai Penjamin Mutu Pendidikan NTT selama, empat hari mulai Rabu – Sabtu.
Kapala balai Bahasa NTT Hery Budhiono dalam sambutannya ketika membuka kegiatan tersebut mengatakan, kompetensi seorang awak media mutlak dikuatkan.

“Dulu wartawan disebut kuli tinta. Lalu muncul istilah, kuli disket. Sekarang dipanggil awak Media. Saya minta jangan berhenti belajar. Supaya tidak berhenti belajar maka jangan berpuas diri. Teruslah belajar”, ujar dia Rabu (7/5/25).

Menurut Budi, Balai Bahasa diberi tanggung jawab untuk membantu wartawan dalam meningkatkan kemampuannya.

“Kampanyekan kata baru bahasa Indonesia, disebar lebih luas lagi oleh bapa ibu”, kata dia.

Lebih jauh dalam pemaparan materinya Budi menjelaskan, Bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu sebagai mana tertera dalam sumpah pemuda.

“Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia”.
“Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia”.
“Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”.

Menurut dia, bahasa Indonesia sudah dikenal hingga mancanegara.
“Bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa resmi UNESCO”, ujar Budi.

Koordinator Panitia kegiatan dari KKLP Pembinaan dan Bahasa Hukum, Christine Mukin melaporkan, Peningkatan Kemahiran Berbahasa: Penyegaran Kompetensi Berbahasa bagi Wartawan ini merupakan kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Balai Bahasa sejak 2019 hingga saat ini, yang menyasar para wartawan/editor/pimpinan redaksi di NTT.

“Kegiatan ini berlangsung selama 4 hari mulai Rabu-Sabtu. 7-10 Mei 2025, dimulai pukul 08.00-10.00. Kemarin, pendaftaran yang dibuka, sebanyak 75 orang wartawan yang mendaftar, tetapi kita harus menerima 50 wartawan saja yang menjadi peserta kegiatan”, jelas dia.

Mengapa harus wartawan?

Insan media merupakan para pihak yang bekerja dan menekuni profesinya di media massa.
Bagi wartawan, pemimpin redaksi, editor, penyiar, atau reporter, penguasaan bahasa Indonesia sangat penting karena pekerjaan sehari-hari mereka bergelut dengan pemberitaan yang menggunakan Bahasa Indonesia.
“Oleh kerena itu, para insan media baik media cetak maupun elektronik (media daring/online) ini perlu mendapat prioritas dalam bimbingan teknis, berupa penyegaran bahasa Indonesia”, tambah dia.

Kegiatan ini akan berlangsung selama 3 bulan, dimulai dengan sosialisasi berupa penyegaran tatap muka, yang berlangsung hari ini hingga 4 hari kedepan.

“Selanjutnya, setelah itu akan dilakukan bimbingan dan pendampingan kurang lebih 2 bulan. Akhir Agustus nanti, para peserta akan diberikan tes akhir, guna mengukur peningkatan kompetensi mereka”, jelas dia.

Sebagai Bonus, para peserta akan mendapat Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) gratis dari kanto bahasa, yang sertifikatnya dapat mereka gunakan sebagai syarat mengikuti kompetensi wartawan. (Sintus).

  • Bagikan