NTT Daerah Merah DBD, Djamaludin:”Kunci Hadapi DBD Adalah Hidup Sehat”

  • Bagikan
Asisten I Sekda Provinsi NTT Djamaludin Ahmad bersama Peserta Pertemuan Bakohumas Provinsi NTT Jumat (13/3/20)

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT.COM –“Kasus Demam berdarah Dengue saat ini terus meningkat. Hingga Maret jumlah kasus di Nusa Tenggara Timur sudah mencapai 3.284 dengan 39 kasus meninggal. NTT sudah menjadi daerah “Merah” penyebaran Virus DBD karena itu masyarakat diminta menjaga lingkungan tetap sehat”.

Demikian penegasan Asisten pemerintah Sekda Provinsi NTT Djamaludin Ahmad pada Pertemuan Bakohumas Provinsi NTT di Hotel Papa Jons Jumat (13/3/20).

Menurut dia, kasus tertinggi di Maumere 1.145 jiwa, dengan korban meninggal sebanyak 13 orang pada posisi 8 Maret 2020. “di Alor KLB. Maumere tambah lagi 30 kasus. Belu jadi awas”, kata Ketua DPW PBNU NTT itu.

Dr. Asep efendy dari DInas Kesehatan Provinsi NTT mengatakan, untuk memberantas nyamuk DBD masyarakat harus kenal dulu. “Dalam ilmu DBD,  tidak kenal sayang setelah kenal jadi tdk sayang. Maksudnya kalau sudah kenal nyamuk penyebar Virus DBD maka masyarakat akan memberantasnya tapi kalo tidak kenal maka akan dipiara (disayang-red)”, jelasnya.

Ia menjelaskan, penyebar virus DBD adalah nyamuk Aedez Aegipty dan Aedes Albopictus. “Telur nyamuk ini bisa bertahan selama satu tahun. Jadi kalo misalnya nyamuk itu bertelur pada akhir musim hujan memasuki musim kemarau telurnya tetap hidup, nanti tahun depan turun hujan dia langsung menetas jadi nyamuk. Kalo telurnya ratusan bagaimana”, kata dia.

Menurut dia, NTT sudah pada status kejadian Luar Biasa (KLB) DBD. “DBD sudah menguasai semua kabupaten Kota di NTT.  22 kabupaten /  Kota tidak ada yang bebas”, jelasnya..

Ia menjelaskan, DBD merupakan penyakit berbasisi lingkungan, karena itu masyarakat harus memperhatikan kebersihan lingkungan.

“Bersihkan tempat perindukannya, ban bekas, kaleng bekas, media-media tempat penampungan air harus ditutup. Jangan beternak Nyamuk DBD.

Ia menyebut, Gejala DBD adalah sakit kepala, nyeri otot dan sendi, Kemerahan/ perdarahan di kulit dll.

“Sebaiknya suruh minum. Makan yang banyak.  Harus melawan. Karena ketika daya tahan tubuh lemah virus serang”, tegasnya.

Saat ini nyamuk DBD (Aedes Aegepty dan Aedez Albopictus) tidak mengenal waktu gigit. “Dulu siang hari sekarang tidak kenal waktu. Nyamuk ini bisa sembunyi di luar rumah, karena itu bersihkan lingkungan tiap saat”, tuturnya.

Lantas kapan Pemerintah bisa melakukan fogging untuk mengatasi nyamuk DBD ? “Setiap 3 kasus fogging wajib dilakukan di bawah itu bisa swadaya masyarakat”, ujarnya.

NTT sudah menjadi daerah “merah” penyebaran Virus DBD karena itu masyarakat harus peduli dengan lingkungannya, karena nyamuk DBD berada di semua kondisi baik lingkungan bersih maupun kotor.

Mengenai virus Corona Efendy mengatakan, pihaknya dihebohkan dengan isu dua orang terinveksi virus Korona di Kupang. “Memang ada dua orang ya tapi setelah kita awasi, kita isolasi selama 14 hari untuk pengawasan. Jadi yang benar itu Orang Dalam Pengawasan. Saat ini NTT dinyatakan bebeas Corona”, kata dia.

Wakil Ketua Komisi Informasi Publik NTT Maryanti Adoe mengatakan, Informasi yang dapat mengancam hajat hidup orang banyak harus disampaikan kepada Publik. “Seperti kasus DBD dan Corona wajib diumumkan kepada public”, ujar mantan ketua KPUD NTT ini. (Sintus)

 

  • Bagikan