Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Pedagang Pasar Oeba, Sampaikan Protes Kepada Pj. Wali Kota Kupang, Soal Ini

Kadis Perikanan berjabatan tangan dengan Pedagang ikan Desna Rape.

KUPANG , FLOBAMORA-SPOT – Penjabat Wali Kota Kupang Fahrenzy P. Funay berkunjung ke pasar Oeba Selasa (11/6/24).

 

Kedatangan Pj. Wali Kota ke pasar trasisional itu tentu bukan sekedar jalan-jalan.

 

Ia datang untuk melihat dari dekat perkembangan harga berbagai kebutuhan dasar di pasar.

Pj. Wali Kota Kupang mengawali kunjungannya dari Pelabuhan Perikanan (PPi) Oeba.

Turun dari mobil DH 1 A Fahrenzy langsung menuju barak ikan pedagang sambil berbincang-bincang dengan pedagang.

Lapak demi lapak ia lewati, sambil melihat ikan yang dijajakan pedagang. Jika kena di hati ia memerintahkan staf untuk membeli.

Tibalah Penjabat dan rombongan di lapak seorang ibu bernama Desna Rape.

 

Tak ada rasa canggung dan takut ia langsung meminta bantuan cool box dan modal usaha kepada Penjabat Wali Kota.

Pj. Wali Kota langsung memanggil Kadis Perikanan Ejben Doeka untuk menjawab keluhan pedagang.

Rape meminta pemerintah untuk adil dalam mengelola bantuan

“Jangan kalo ada bantuan dong deng dong (mereka dengan mereka) saja yang dapat. Kita nol. Kita mau merata biar orang kecil juga dapat”, kata dia.

 

Ditanya apa maksudnya Ina Rape mengatakan, tidak bisa disebutkan.

“Beta sonde bisa sebut nama. Tapi bapa sudah tau. Masa bapa dong sonde tau”, ucap dia.

 

Dari pasar ikan Penjabat Wali Kota dan rombongan menuju bagian lain pasar itu yang menjual sembilan bahan pokok (sembako).

Setelah memantau sejenak ia keluar dari pasar melalui sektor Timur, depan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa).

 

“Ini kunjungan rutin tiap triwulan. Tiap rapat evaluasi bersama Mendagri pada hari Senin. Kita tindaklanjuti kalau ada laporan pak Mentri oh ada inflasi”, kata Pj. Wali Kota Fahrenzy P. Funay kepada wartawan yang mengikuti kunjungan itu.

Apa yang dipantau pak Penjabat ? “Cabe, telur, ikan, ayam yang berpengaruh kita turun pantau harga. Kira-kira barang ini cukup tidak”, jelas dia.

Adakah yang kurang pak Penjabat ? “Yang saya lihat kurang itu adalah ayam. Dalam rangka hari raya Idul Adha mungkin”, jelas dia.

Lantas apa langkah yang diambil pak ? “Saya sudah perintahkan kepada dinas di bawah koordinasi Asisten II untuk cek di distributor. Mengapa barang tidak ada di pasar”, tegas sia.

“Harapan kita baik pedagang mau distributor dapat mengatur harga dengan baik supaya masyarakat jangan disusahkan. Begitu”, kata dia.

 

“Pemerintah terus hadir untuk bagaimana melihat dan mengendalikan harga agar tidak memberatkan masyarakat”, pungkas Funay.

 

Dari hasil pemantauan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pasar Oeba, harga rata-rata di tingkat pedagang mengalami kenaikan namun stabil dibandingkan hari-hari sebelumnya. Untuk harga ikan belang kuning yang biasanya dijual 25 ribu hingga 30 ribu rupiah per kilogram mengalami kenaikan menjadi 50 ribu rupiah per kilo. Ikan cakalang dijual 20 ribu per kilo sedangkan pada saat normal biasanya dipatok seharga 15 ribu rupiah per kilo. Ikan sardin per kumpul dijual seharga 5 ribu rupiah, ikan tembang dijual seharga 20.000 per 3 kumpul, ikan kembung dijual 50 ribu per kumpul atau sekitar 20 ekor, ikan tenggiri dijual 90 ribu per ekor dan udang oebelo dijual seharga 100 ribu per kilo.

Sementara itu, harga bawang putih dan bawang merah dijual pada kisaran 40 sampai 50 ribu per kilo dari biasanya 35 ribu per kilo. Cabe merah dan cabe kriting cenderung stabil dijual seharga 80 ribu per kilo. Cabe rawit 50 ribu per kilo. Telur ayam per rak dijual seharga 58 ribu. Ayam beku dan ayam potong lokal dijual dengan kisaran 60 sampai 65 ribu per satu setengah kilo, sedangkan untuk jagung pipil dipatok seharga 8 ribu per kilo.  (Sintus).

  • Bagikan