Pariwisata, Salah Satu Industri Yang Tidak Akan Pernah Mati

  • Bagikan
Bupati Kupang Korinus Masneno bersama Director of Rhec Academy Moses Hinapadu, S.M dan rombongan Jumat (20/10/23).

OELAMASI, FLOBAMORA-SPOT – Bupati Kupang Korinus Masneno siang tadi bertemu Director of Rhec Academy bersama rombongan.

 

Hal penting yang mengemuka dalam pertemuan itu adalah soal pariwisata.

 

Director of Rhec Academy Moses Hinapadu, S.M mengatakan, salah satu Industri yang tidak akan pernah mati adalah Pariwisata.

 

“Kita mau anak-anak muda di kabupaten Kupang bisa isi peluang di bidang perhotelan dan pariwisata. Karena memang saat ini salah satu industri yang membuka peluang besar adalah Industri pariwisata. Ini salah satu industri yang tidak akan pernah mati dengan adanya perkembangan teknologi yang begitu pesat. Saat ini dengan hadirnya ai-ai banyak industri yang mati. Tapi industri pariwisata tidak akan pernah mati karena apa ? Karena industri pariwisata berbicara tentang human touch, berbicara perasaan manusia. Dimana ketika dia datang berwisata dia akan merasakan senang dan seterusnya. Maka dia akan membutuhkan tenaga manusia untuk melayani mereka”, kata Director of Rhec Academy, Moses Hinapadu, S.M dalam audiens dengan Bupati Kupang Korinus Masneno di Civic center kantor Bupati Kupang Jumat (20/10/23).

 

Menurut dia, Kabupaten Kupang memiliki wilayah yang sangat luas dan memiliki potensi wisata yang sangat besar.

“Namun perlu kita garisbawahi bahwa tempat-tempat wisata yang luar biasa ini membutuhkan manusia. Membutuhkan SDM untuk mengelolanya. Inilah yang harus kita siapkan SDMnya, untuk bagaimana mengelola tempat-tempat wisata ini. Dan kita tidak boleh mengambil orang dari luar”, tambah dia.

 

“Kalo hari ini masih banyak orang luar, kita tidak boleh menyalahkan siapa-siapa, Pemerintah, dunia usaha dan orang luar. Tapi kita coba tanya diri kita apakah SDM kita sudah siap untuk mengelola tempat wisata kita”, jelas dia.

 

“Inilah yang kita inginkan. Tempat wisata yang bagus ini dikelola oleh anak kabupaten Kupang, dikelola oleh anak tanah ini sendiri. Sehingga mereka tidak jadi Penonton bagi orang lain yang datang untuk mencari uang di tanah ini. Mereka sendiri yang mengelolanya”, terangnya.

 

Ia mengatakan, Rhec Academy merasa ikut bertanggungjawab terhadap pengelolaan pariwisata di kabupaten Kupang.

“Nah kami di Rhec Akademi semangat sekali untuk bagaimana membentuk SDM berkwalitas standar Internasional”, kata dia.

 

Menurut dia, Rhec Academi tidak membuka lembaga pendidikan formil yang kuliahnya 4-5 tahun karena, buktinya di Kupang banyak sarjana yang jadi Penganggur meski berijasah sarjana.

 

“Ribuan sarjana dicetak universitas di NTT. Tapi pertanyaannya ke mana sarjana-sarjana itu ? Karena memang tujuan kampus bukan mencetak tenaga kerja tapi mencetak orang pintar. Sedangkan industri kerja membutuhkan skill tidak hanya nilai di atas kertas.
Rhec Academi hadir sebagai peluang bagi anak-anak muda dimana mereka tidak perlu harus jadi sarjana untuk mereka bekerja”, jelasnya.

 

“Karena kami menyiapkan lapangan pekerjaannya dulu baru kami buka lembaga pendidikannya. Artinya apa, tidak perlu kuliah berlama-lama. Mereka kuliah 1 tahun 6 bulan di kelas 6 bulan berikutnya mereka magang di dalam negri dan luar negri. Kami sudah MOU dengan lebih dari 700 industri. Mereka sudah siap menerima lulusan kami untuk magang maupun kerja”, tambah Moses.

 

“Mereka juga tidak hanya kami cetak sebagai peÄ·erja pak. Gol akhir kami bisa mencetak mereka menjadi Pengusaha yang membuka lapangan kerja bagi generasi berikutnya.
Nanti sambil bekerja mereka tetap lanjutkan pendidikan sampai S1. Kenapa? Karena pendidikan penting pak. Tapi akan tidak penting kalau dia jadi sarjana dan jadi Penganggur. Sehingga kami membuat pendidikan profesional dimana kuliahnya cuma 1 tahun setelah itu dia kerja. Kita siapkan lapangan pekerjaan, setelah itu dia lanjutkan kuliah dari dunia kerja tadi untuk mendapatkan sarjana karena kita dibantu dengan kuliah merdeka”, pungkasnya.

 

Bupati Kupang Korinus Maaneno pada pertemuan tersebut membeberkan keunggulan obyek wisata yang dimiliki daerah itu, salah satunya adalah Fatubraun dan pantai Teres.

 

“Beberapa tahun terakhir kita benahi pantai Teres. Sudah tersedia berbagai fasilitas termasuk teropong untuk menyaksikan matahari terbit (sunrise) dan matahari terbenam (sunset). Tapi bagaimama mengelola kulinernya sehingga menarik orang. Saya coba adakan lomba mancing. Justru yg menang anak-anak Teres”, kata Masneno.

Masneno menambahkan, saat ini pihaknya memanfaatkan dana sosial (CSR) dari Bank NTT untuk membangun pariwisata.

 

“Sebagai pemegang saham terbesar kedua kita bisa mafaatkan dana CSR untuk bangun jalan dan fasilitas lain menuju obyek wisata”, ujar dia.

 

Untuk mendatangkan Pengunjung berbagai pihak harus ikut berkontribusi.

 

“Jumat malam atau malam minggu bisa banyak org datang. Dua dinas lakukan kegiatan setiap malam Minggu datangkan seluruh pegawainya, kuliner juga disiapkan pasti orang datang.
Kelemahan pemerintah mental enterpreneursipnya kurang. Kita hanya bisa habiskan anggaran tapi tidak tau cari uang”, pungkas putra Amarasi itu. (Sintus).

  • Bagikan